Syukuran 50 Tahun Pernikahan, Pendeta Abraham Manurung Gelar Bakar Batu Bersama Keluarga Besar Natkime
-Pendeta Abraham Manurung mengisahkan awal mula hubungannya terjalin bersama keluarga Natkime (Salampapua.com/Evita)
SALAM PAPUA (TIMIKA) Syukur atas usia pernikahan ke-50 tahun, Pendeta Abraham Manurung bersama Pendeta Magdalena menggelar acara bakar batu bersama keluarga Natkime, di Kompleks Waanal Coffe dan Resto, Jalan Poros SP3, Sabtu (13/1/2024).
Acara ini terlaksana sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, karena sampai saat ini keluarga Manurung dan keluarga Natkime masih terus berhubungan baik dan dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan.
Pantauan Salampapua.com, acara syukuran pernikahan yang telah diarungi selama 50 tahun ini dihadiri Kapolres Mimika, AKBP I Gede Putra, Dandim Mimika, Letkol Inf Dedy Dwi Cahyadi, Danlanud Mimika, Letkol Pnb Kamto Adi Saputra, Danlanal Timika, Letkol Laut (P) Apriles Lusien S, perwakilan Asop Kogabwilhan, Brigjen Aulia, Kasatgas Elang, Brigjen Murbianto, Danyonif Raider 754/ENK, Mayor Inf Cecep Cahyadi, Kepala Basarnas Mimika, George M Randang, serta perwakilan PT Petrosea Tbk Timika, Grant Hansen.
-Four Brothers didampingi Titus Natkime (Salampapua.com/Evita) Dikemas sederhana, tetapi penuh kasih acar bakar batu juga dihadiri Irjen. Pol. (Purn) Drs. Fransiskus Xaverius Bagus Ekodanto beserta Kapolres Kota Jayapura, Kombes Pol. Dr. Victor Dean Mackbon.
Pendeta Abraham Manurung dalam sambutannya menceritakan, hubungan kekeluargaan bersama keluarga Natkime berawal saat dirinya bertemu seorang anak berumur 12 tahun bernama Silas Natkime di Tembagapura.
Pertemuan itu membuat hubungan mereka semakin dekat, sehingga Silas Natkime tinggal di rumahnya dan menjaga anaknya.
- Suasana bakar batu bersama keluarga Natkime dan para tamu yang hadir (Salampapua.com/Evita) Saya juga sudah anggap Silas seperti anak saya, sehingga rasa kekeluargaan kami kuat sekali. Berjalannya waktu, anak dari Silas Natkime bernama Elfira yang baru berumur 3 tahun dijaga dan di rawat oleh anak kami, kemudian diboyong ke Bandung untuk sekolah yang lebih baik, hingga saat ini kita tetap menjadi keluarga besar, ujarnya.
Dirinya berharap, hubungan ini terus berlanjut dari generasi pertama, kedua, ketiga hingga seterusnya.
Saya titipkan generasi-generasi ini kepada semuanya untuk terus diperhatikan masa depannya, apa yang bisa dibantu, maka anak-anak saya harus lakukan supaya anak-anak Natkime ini harus bisa membangun tanah mereka, ungkapnya.
-Pendeta Abraham Manurung didamping dua keluarga Natkime (Salampapua.com/Evita) Sementara itu kepala suku Amungme, Agus Natkime mengatakan, acara bakar batu ini merupakan ucapan rasa syukur kepada Tuhan atas umur 50 tahun pernikahan Bapak dan Mama Manurung.
Menurut Agus, keluarga Manurung telah lama hidup di kampung Waa, Tembagapura dan sudah lama menjalin hubungan bersama Tuarek Natkime dan Silas Natkime, sehingga dari orang tua hingga ke anak-anak ikut terus menjaga jalinan kasih hingga sekarang.
Manurung dan Natkime itu satu keluarga, tidak boleh putus, tidak boleh hilang, tidak boleh jalan sendiri-sendiri, banyak orang yang bicara tidak baik tentang Manurung dan Natkime, itu karena rasa cemburu mereka, kita ini tetap keluarga saling dukung, ujarnya.
Ia berharap, jalinan kekeluargaan ini terus terjaga dari anak hingga cucu-cucu. Selanjutnya, atas nama Natkime dirinya mengucapkan terima kasih kepada keluarga Manurung yang selalu ada bersama keluarga Natkime.
Selamat ulang tahun pernikahan untuk bapa dan mama Manurung, kami semua berdoa bapa dan mama sehat dan diberkati selalu, ungkapnya.
Selanjutnya mewakili Four Brothers, Ray Manurung mengucapkan rasa syukurnya atas 50 tahun umur pernikahan orang tua terkasih.
Menurut Ray, apa yang dilakukan keluarga Manurung bersama keluarga Natkime bukan tentang harta benda, melainkan karena cinta dan kasih yang terus terjalin.
Selaku anak sulung dalam keluarga Manurung, Ray mengingatkan kepada adik-adiknya (Manurung Natkime) bahwa ada lima hal yang harus terus diterpakan.
5 hal itu, pertama kita harus punya Rohani, harus ada Tuhan dalam kita punya hidup. Kedua kita jaga kita punya karakter, kita punya karakter harus lemah lembut. Ketiga jasmani kita jaga kita punya kesehatan ini. Keempat kita jaga keluarga, karena keluarga yang ada saat suka dan duka, dan yang terakhir adalah kita jaga hubungan yang baik. Dari lima hal itulah maka harta benda akan datang, tapi kalau 5 hal ini tidak dijaga maka semua akan sirna, ujarnya.
Manajer Waanal Brothers FC ini menjelaskan, tahun 2023 four brothers telah memberikan rasa bangga kepada kampung Waa dengan keberhasilan membawa pulang piala Champions Liga 3 Zona Papua dan akan berlaga di pertandingan seri Nasional untuk masuk ke Liga 2.
Banyak yang tanya Waanal ini apa, ini sudah baru saya jelaskan Waanal ini kita ambil dari nama kampung tempat kita tinggal, dan kali ini kita bawakan piala ini untuk kampung Waa, kami berdoa semoga WBFC bisa terus membanggakan untuk masyarakat Waa Banti, harapnya.
Dalam perayaan tersebut tidak lupa anak-anak dari generasi ketiga keluarga Natkime (Jimmy, Marno, Nelson, Elfrida) mengucapkan rasa terima kasihnya kepada semua keluarga yang terus membimbing mereka dalam setiap hal.
Kami sebagai generasi ke-3 akan terus mempertahankan hubungan baik Natkime Manurung, ungkap Jimmy Natkime.
Sebagai tanda hormat dan kasih, keluarga Natkime yang diwakili Agus dan Martha Natkime mengenakan noken dan mahkota kepada Bapak Dan Ibu Pendeta Manurung.
Sementara itu, Four Brothers yang diwakili Joe Rambo mengucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh Komandan kesatuan TNI-Polri.
Joe juga sampaikan apresiasi atas kerja keras keluarga Natkime yang telah jauh-jauh hari mempersiapkan bakar batu.
Sebelum akhiri penyampaiannya, Joe mengaku sangat bahagia dan berterima kasih kepada Dandim 1702/Jayawijaya, Letnan Kolonel Cpn Athenius Murib atas sumbangan satu ekor babi dalam acara bakar batu ini.
Tuhan yang akan balas semua kebaikan kita. Mewakili keluarga juga kami minta maaf jika banyak pelayanan kami yang kurang berkenan untuk semua tamu dan juga keluarga Natkime, ujarnya.
Wartawan: Evita
Editor: Acik