30 Tahun Mimika: Setahun Bergerak, Menata Fondasi, Menjemput Masa Depan (Karikatur: salampapua.com)

30 Tahun Mimika: Setahun Bergerak, Menata Fondasi, Menjemput Masa Depan

SALAM PAPUA (TIMIKA) - Delapan Oktober 2026 menjadi penanda tiga dekade perjalanan Kabupaten Mimika sebagai daerah otonom. Tetapi di balik perayaan Hari Ulang Tahun ke-30, ada pertanyaan yang jauh lebih penting: apa yang berubah bagi masyarakat Mimika dalam satu tahun terakhir?

Periode 8 Oktober 2025 hingga 8 Oktober 2026 merupakan satu rentang waktu yang menarik untuk membaca arah pembangunan Mimika secara lebih jernih.

Dalam kurun tersebut, pemerintahan Kabupaten Mimika di bawah kepemimpinan Bupati Johannes Rettob dan Wakil Bupati Emanuel Kemong memasuki fase konsolidasi pembangunan dengan sejumlah agenda besar, yakni memperbaiki kualitas pelayanan publik, memperkuat ekonomi masyarakat, meningkatkan kesehatan dan pendidikan, membuka konektivitas wilayah, memperbaiki tata kelola keuangan, serta memperluas basis pendapatan daerah.

Tidak semua hasil pembangunan dapat langsung diukur dalam satu tahun. Sebagian merupakan hasil yang baru terlihat melalui indikator statistik tahunan, sementara sebagian lainnya berupa fondasi kebijakan dan proyek yang baru memasuki tahap perencanaan atau pelaksanaan.

Karena itu, refleksi satu tahun Mimika harus dibaca secara proporsional: apa yang sudah menghasilkan angka, apa yang sudah menghasilkan program, dan apa yang sedang dibangun fondasinya.

IPM Meningkat, Modal Utama Mimika Tetap Manusia

Salah satu indikator paling penting dalam membaca pembangunan adalah kualitas manusia. Dalam evaluasi yang disampaikan Pemerintah Kabupaten Mimika pada Maret 2026, IPM Mimika disebut meningkat dari 76,85 pada 2024 menjadi sekitar 77,5 pada 2025. Pemerintah menempatkan peningkatan kualitas manusia sebagai salah satu ukuran penting transformasi pembangunan.

Angka tersebut sekaligus memperkuat posisi Mimika sebagai salah satu daerah dengan capaian pembangunan manusia yang relatif tinggi di Papua Tengah.

Sebelumnya, dalam penyusunan RPJMD 2025-2029, pemerintah juga menetapkan peningkatan IPM sebagai salah satu fokus utama pembangunan. Saat itu IPM Mimika 2024 sebesar 76,85 dan menjadi yang tertinggi di Provinsi Papua Tengah.

Dengan demikian, sepanjang satu tahun terakhir, arah kebijakan pembangunan Mimika semakin menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan.

Sebab, pada akhirnya, kekayaan alam tidak akan cukup menjamin masa depan apabila tidak diikuti dengan sumber daya manusia yang sehat, terdidik, terampil dan mampu bersaing.

Ekonomi Tumbuh, Tantangan Berikutnya adalah Pemerataan

Ekonomi Mimika kembali menunjukkan penguatan. Dalam evaluasi satu tahun pemerintahan, pertumbuhan ekonomi Mimika disebut meningkat menjadi sekitar 6,5 persen pada 2025, setelah sebelumnya berada pada sekitar 4,80 persen pada 2024 menurut paparan pemerintah daerah.

Data BPS juga telah menerbitkan publikasi Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Mimika 2021–2025, yang memberikan gambaran menyeluruh mengenai struktur ekonomi Mimika berdasarkan lapangan usaha.

Namun, ada satu fakta yang tidak boleh diabaikan: perekonomian Mimika masih sangat dipengaruhi sektor pertambangan dan penggalian. Karena itu, pertumbuhan ekonomi 6,5 persen bukanlah garis akhir.

Justru angka tersebut menjadi momentum untuk memperbesar kontribusi sektor lain, seperti pertanian, perikanan, peternakan, perdagangan, konstruksi, jasa, ekonomi kreatif dan UMKM.

Pertumbuhan ekonomi harus bergerak dari pertumbuhan berbasis sumber daya alam menuju pertumbuhan yang semakin banyak menciptakan kesempatan bagi masyarakat lokal.

UMKM Mulai Masuk Era Digital

Salah satu perkembangan menarik selama periode satu tahun terakhir terlihat dari sektor ekonomi kerakyatan.

Pada Festival UMKM Mimika 2026, pemerintah menyebut sekitar 1.500 pelaku usaha di Mimika telah menggunakan sistem daring dalam menjalankan usahanya. Pemerintah mendorong pelaku UMKM untuk tidak sekadar bertahan, tetapi naik kelas melalui digitalisasi, inovasi dan perluasan pasar.

Ini penting karena struktur ekonomi Mimika tidak hanya dibangun oleh perusahaan besar.

Di balik aktivitas ekonomi sehari-hari terdapat pedagang kecil, mama-mama Papua, pelaku kuliner, pengrajin, usaha rumah tangga, petani, nelayan dan anak-anak muda yang mulai membangun bisnis melalui platform digital.

Tantangannya sekarang adalah bagaimana digitalisasi tersebut berubah menjadi peningkatan omzet, akses pembiayaan, pasar yang lebih luas dan kemitraan dengan perusahaan besar maupun pemerintah.

Kesehatan: Stunting Menjadi Agenda Lintas Sektor

Kesehatan menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian besar dalam satu tahun terakhir. Pemerintah tidak lagi melihat stunting sebagai persoalan yang hanya menjadi tanggung jawab dinas kesehatan.

Pada April 2026, Bappeda Mimika menggelar koordinasi lintas sektor dengan melibatkan OPD, seluruh kepala distrik, lembaga internasional, sektor swasta, tokoh agama, akademisi dan organisasi kemasyarakatan.

Pendekatan tersebut diarahkan kepada intervensi berbasis data dan by name by address terhadap keluarga berisiko stunting. Pemerintah juga mengidentifikasi masih adanya tantangan akses sanitasi dan air bersih di 68 wilayah prioritas.

Ini merupakan perubahan pendekatan yang penting. Sebab anak yang mengalami stunting tidak hanya membutuhkan makanan bergizi. Ia membutuhkan lingkungan sehat, air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, edukasi keluarga dan kondisi sosial ekonomi yang mendukung.

Karena itu, keberhasilan penanganan stunting harus dilihat sebagai keberhasilan pembangunan lintas sektor.

Pendidikan: Membangun Masa Depan dari Ruang Kelas

Pendidikan merupakan investasi yang hasilnya tidak selalu terlihat dalam satu tahun. Tetapi selama periode 8 Oktober 2025–8 Oktober 2026, sejumlah langkah menunjukkan bahwa pendidikan tetap menjadi salah satu agenda strategis Mimika.

Dalam evaluasi satu tahun pemerintahan, pemerintah melaporkan penambahan satu unit PAUD yang dikelola TP-PKK Kabupaten Mimika. Di sisi lain, Sentra Pendidikan Mimika terus menjadi bagian penting dalam strategi memperluas akses pendidikan.

Ketika Wakil Presiden Gibran Rakabuming meninjau Sentra Pendidikan Mimika pada April 2026, tercatat 1.031 siswa belajar di kawasan tersebut, terdiri atas 205 siswa SD, 285 siswa SMP dan 541 siswa SMA. Fasilitas pendidikan yang ditinjau juga mencakup perpustakaan serta laboratorium informatika dan IPA.

Artinya, Mimika tidak hanya membutuhkan gedung sekolah, tetapi juga ekosistem pendidikan yang mempersiapkan anak-anaknya menghadapi perubahan zaman.

Infrastruktur: Dari Pembangunan Fisik Menuju Pembangunan Berbasis Data

Infrastruktur merupakan salah satu pekerjaan terbesar Mimika. Wilayah geografis yang luas membuat pembangunan jalan, jembatan, fasilitas kesehatan, air bersih, sanitasi dan perumahan membutuhkan perencanaan yang sangat hati-hati.

Salah satu perkembangan penting pada 2026 adalah dimulainya penguatan basis data infrastruktur.

Pada Agustus 2026, Dinas PUPR Mimika melaksanakan seminar pemetaan infrastruktur untuk membangun basis data spasial berbasis GIS. Tujuannya adalah mengetahui secara lebih akurat kondisi, sebaran dan kebutuhan infrastruktur sehingga pembangunan tidak hanya berdasarkan asumsi, tetapi berdasarkan data lapangan.

Pendekatan tersebut sangat penting bagi Mimika. Sebab pembangunan jalan di kota tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan pembangunan konektivitas di distrik dan kampung.

Membuka Wilayah yang Selama Ini Sulit Dijangkau

Dalam periode satu tahun terakhir, pembangunan konektivitas juga diarahkan ke wilayah yang memiliki tantangan geografis. Salah satu contohnya adalah pekerjaan studi kelayakan dan DED pembangunan Jalan Agimuga–Fakafuku–Timika.

Pemerintah menyebut pembangunan jalan tersebut sebagai bagian dari upaya membuka keterisolasian, meningkatkan konektivitas antarwilayah, mendorong pertumbuhan ekonomi dan memperluas pelayanan dasar.

Di Mimika Timur, hasil Musrenbang juga menetapkan sejumlah prioritas infrastruktur, termasuk pelebaran jalan poros utama dan penyiapan badan jalan.

Untuk sektor perumahan, direncanakan pembangunan 255 unit rumah layak huni bagi masyarakat yang membutuhkan.

Sementara di Distrik Mimika Baru, Musrenbang 2026 menampung 272 usulan pembangunan, dengan perhatian antara lain pada jalan, drainase, air bersih, penerangan jalan umum, pelayanan publik dan lingkungan.

Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan mulai diarahkan dari pendekatan sektoral menuju pemetaan kebutuhan berdasarkan wilayah.

PAD: Pajak Daerah Mulai Bergerak Lebih Kuat

Kemandirian fiskal menjadi salah satu isu penting dalam pembangunan Mimika. Hingga pertengahan September 2026, penerimaan pajak daerah telah mencapai sekitar 70 persen dari target Rp 410 miliar.

Bapenda Mimika menyebut optimalisasi dilakukan melalui pemutakhiran data wajib pajak, pelayanan, penagihan, pengawasan dan peningkatan kesadaran masyarakat.

Perkembangan menarik juga terlihat dalam Gebyar Sadar Pajak Daerah 2026. Jumlah peserta meningkat dari 1.680 orang pada 2025 menjadi 5.932 orang pada 2026. Total transaksi pembayaran pajak dalam kegiatan tersebut mencapai Rp 2.026.726.965, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya.

Ini bukan sekadar angka penerimaan. Ada indikator lain yang tidak kalah penting: kesadaran masyarakat untuk ikut membiayai pembangunan melalui pajak mulai tumbuh.

APBD Perubahan 2026: Anggaran Besar, Tanggung Jawab Lebih Besar

Dalam membaca kondisi fiskal Mimika pada HUT ke-30, angka yang digunakan harus mengacu pada APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026, bukan lagi APBD Induk.

Pada 28 September 2026, DPRK Mimika bersama Pemerintah Kabupaten Mimika menyepakati APBD Perubahan 2026.

Dalam rancangan perubahan tersebut, pendapatan daerah ditargetkan sebesar Rp 5.053.936.114.600. Komposisinya PAD Rp 584.524.124.864, Pendapatan transfer Rp2 .999.523.392.052, Lain-lain pendapatan daerah yang sah Rp1.469.888.597.684.

Sementara belanja daerah mencapai Rp 6.164.297.190.075, terdiri atas Belanja operasi Rp 4.600.898.656.669, Belanja modal Rp 1.170.808.439.863, Belanja tidak terduga Rp 33.347.591.993, Belanja transfer Rp 359.235.501.550.

Pembiayaan daerah direncanakan sekitar Rp 1,111 Triliun, dengan penerimaan pembiayaan sekitar Rp 1,116 Triliun dan pengeluaran pembiayaan Rp 5,8 Miliar.

Angka ini memperlihatkan satu hal yang sangat jelas, bahwa Mimika memiliki kapasitas fiskal yang besar, tetapi kapasitas tersebut harus diikuti kemampuan eksekusi yang besar pula.

Sebab anggaran yang besar baru bermakna ketika berubah menjadi sekolah, jalan, fasilitas kesehatan, air bersih, pelayanan publik dan program ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat.

SiLPA dan Tantangan Kecepatan Belanja

APBD Perubahan 2026 juga tidak dapat dipisahkan dari pembahasan mengenai SiLPA. Pemerintah menjelaskan bahwa SiLPA sekitar Rp 1,1 Triliun dari tahun sebelumnya merupakan bagian dari mekanisme pengelolaan keuangan daerah dan dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk efisiensi tender, kegiatan yang belum terlaksana, transfer yang diterima menjelang akhir tahun serta pembayaran pekerjaan berdasarkan progres.

Namun dari sisi pembangunan, SiLPA tetap memberikan satu pesan penting: kecepatan perencanaan dan pelaksanaan program harus terus ditingkatkan.

APBD yang besar membutuhkan perencanaan matang sejak awal tahun sehingga kegiatan tidak menumpuk pada akhir tahun.

Pemerintahan Mulai Bergerak Dengan Sistem yang Lebih Terukur

Dalam periode satu tahun terakhir, pemerintah juga berusaha memperkuat sistem pengendalian pembangunan. Penyerahan DPA-SKPD 2026 dilakukan sebagai langkah mempercepat pelaksanaan program pembangunan. Pemerintah menekankan agar perangkat daerah segera menjalankan program sesuai dokumen anggaran yang telah ditetapkan.

Bappeda juga menggunakan sistem monitoring dan evaluasi untuk memantau kinerja program OPD. Di tingkat perencanaan, Mimika memiliki sejumlah instrumen digital, termasuk SIMONEV, sistem informasi geospasial dan berbagai platform data pembangunan.

Ini merupakan bagian penting dari perubahan budaya birokrasi: dari sekadar menjalankan kegiatan menuju mengukur hasil kegiatan.

Tantangan Besar: Dana Otsus Harus Lebih Cepat Menjadi Manfaat

Di balik berbagai capaian positif, ada pekerjaan rumah yang harus disampaikan secara jujur. Penyerapan Dana Otonomi Khusus menjadi salah satu tantangan.

Pemerintah daerah harus memastikan dana tersebut tidak berhenti pada dokumen perencanaan atau proses administrasi, tetapi benar-benar menjadi pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat dan pelayanan dasar bagi Orang Asli Papua.

Karena itu, percepatan penyerapan harus berjalan bersamaan dengan prinsip akuntabilitas. Cepat saja tidak cukup. Harus tepat sasaran.

Mimika Rumah Kita: Pertumbuhan Harus Dirasakan Semua Orang

Mimika adalah daerah dengan keragaman sosial yang sangat tinggi. Di satu sisi terdapat pusat pertambangan berskala dunia. Di sisi lain terdapat kampung-kampung yang masih membutuhkan jalan, air bersih, sekolah dan layanan kesehatan.

Ada pengusaha besar, tetapi ada pula pedagang kecil. Ada pusat kota yang berkembang, tetapi masih ada wilayah yang harus ditempuh dengan tantangan geografis yang berat. Karena itu, pembangunan Mimika tidak dapat hanya dinilai dari gedung-gedung baru atau angka pertumbuhan ekonomi.

Ukuran akhirnya adalah apakah pembangunan mampu memperkecil kesenjangan antara pusat kota dan kampung, antara mereka yang memiliki akses dan mereka yang selama ini berada di pinggir pembangunan.

Di sinilah filosofi Mimika Rumah Kita memperoleh maknanya. Rumah yang baik bukan hanya rumah yang besar. Rumah yang baik adalah rumah yang membuat semua penghuninya merasa aman, dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Satu Tahun Bukan Garis Akhir

Periode 8 Oktober 2025–8 Oktober 2026 menunjukkan bahwa Mimika sedang berada dalam fase penting.

Sejumlah indikator ekonomi bergerak positif, IPM meningkat, pertumbuhan ekonomi menguat, UMKM mulai bergerak menuju digitalisasi, upaya penurunan stunting semakin menggunakan pendekatan lintas sektor, pendidikan terus diperkuat, perencanaan infrastruktur mulai diarahkan dengan basis data spasial, konektivitas wilayah dipersiapkan, PAD terus digenjot, kesadaran masyarakat membayar pajak meningkat, dan APBD Perubahan 2026 menyediakan ruang fiskal yang besar untuk mempercepat pembangunan.

Namun pekerjaan rumah masih panjang. Pemerataan pembangunan harus diperkuat, penyerapan anggaran harus lebih cepat, Dana Otsus harus lebih optimal, ekonomi masyarakat harus semakin beragam, ketergantungan terhadap pertambangan harus dikurangi secara bertahap, dan pelayanan dasar harus semakin dekat dengan masyarakat di kampung-kampung.

30 Tahun Mimika: Dari Kekayaan Alam Menuju Kekayaan Manusia

Tiga puluh tahun Kabupaten Mimika bukan hanya perjalanan administratif. Ia adalah perjalanan masyarakat, dari kampung ke kota, dari keterisolasian menuju konektivitas, dari ekonomi tradisional menuju ekonomi digital, dari pelayanan konvensional menuju pemerintahan berbasis data, dan dari ketergantungan terhadap sumber daya alam menuju cita-cita membangun ekonomi yang lebih beragam dan berkelanjutan.

Satu tahun terakhir belum menyelesaikan seluruh persoalan Mimika. Tetapi sejumlah fondasi sedang dibangun. Dan fondasi itulah yang akan menentukan apakah Mimika dalam 10, 20 atau 30 tahun mendatang hanya dikenal sebagai daerah kaya sumber daya alam, atau menjadi daerah yang berhasil mengubah kekayaan tersebut menjadi manusia yang sehat, terdidik, sejahtera dan berdaya saing.

Pada usia 30 tahun, Mimika tidak sedang memulai perjalanan. Mimika sedang melanjutkan perjalanan panjangnya, dengan tantangan yang semakin besar dan peluang yang juga semakin besar.

Karena masa depan Mimika pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh berapa banyak kekayaan yang dimiliki daerah ini.

Masa depan Mimika ditentukan oleh seberapa baik kekayaan itu dikelola dan seberapa besar manfaatnya kembali kepada masyarakat.

Selamat HUT ke-30 Kabupaten Mimika.

Dari Mimika untuk Mimika. Bersama membangun Kabupaten Mimika yang lebih baik dalam kerangka Mimika Rumah Kita dan Semangat Eme Neme Yauware.

Penulis: Jimmy