Dari Temuan Ekspedisi Patriot ITB 2025 Hingga Air Bersih Untuk Senggi: ITB Hadir Bersama Masyarakat Melalui Program Pengabdian Bottom-Up Tim dari Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Kepakaran (DPMK) ITB ketika melakukan program ketersediaan air bersih di kawasan transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua beberapa waktu lalu (Salampapua.com/Dokumen DPMK ITB)

Dari Temuan Ekspedisi Patriot ITB 2025 Hingga Air Bersih Untuk Senggi: ITB Hadir Bersama Masyarakat Melalui Program Pengabdian Bottom-Up

SALAM PAPUA (KEEROM) – Ketersediaan air bersih masih menjadi salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat di kawasan transmigrasi Senggi, Kabupaten Keerom, Papua. Kondisi tersebut menjadi perhatian Institut Teknologi Bandung (ITB) sejak pelaksanaan Evaluasi Kawasan Transmigrasi melalui Program Tim Ekspedisi Patriot Kementerian Transmigrasi pada 2025.

Saat itu, ITB menjadi salah satu perguruan tinggi yang terlibat dalam kegiatan tersebut dan menemukan sejumlah persoalan di kawasan transmigrasi SP1 dan SP2, Distrik Senggi.

Kedua kawasan tersebut telah berkembang dan relatif padat. Meski sumber air tanah tersedia cukup melimpah, masyarakat masih menghadapi persoalan kualitas air yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Air yang dimanfaatkan warga dilaporkan dalam kondisi keruh dan berbau. Kondisi tersebut membuat pemanfaatannya menjadi kurang nyaman dan menimbulkan kekhawatiran terhadap kualitas air, termasuk untuk kebutuhan mandi. Sejumlah warga juga mengeluhkan gangguan berupa gatal pada kulit.

Hasil pengamatan lapangan menunjukkan karakteristik air tersebut diduga berkaitan dengan kondisi geologi dan lingkungan setempat. Material tanah liat atau partikel halus yang terbawa dalam air dapat menyebabkan kekeruhan, sementara kandungan mineral tertentu seperti besi serta kemungkinan bahan organik dapat berkontribusi terhadap warna, rasa, dan bau air.

Berawal dari Temuan, Berlanjut Menjadi Kepedulian

Temuan tersebut kemudian mendorong ITB untuk memberikan tindak lanjut melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat skema Bottom-Up ITB 2026, yang merupakan salah satu program unggulan Direktorat Pengabdian Masyarakat dan Kepakaran (DPMK) ITB.

Kebutuhan masyarakat yang disampaikan melalui aplikasi Desanesha kemudian dikembangkan bersama dosen ITB menjadi program penyediaan sistem filtrasi air bersih.

Dalam pelaksanaannya, ITB menggandeng Universitas Cenderawasih, khususnya Program Studi Kimia, sebagai mitra perguruan tinggi lokal. Tim juga berkoordinasi dengan Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro yang sedang bertugas di Senggi.

Kolaborasi tersebut mempertemukan kompetensi perguruan tinggi dengan kebutuhan dan kondisi nyata masyarakat di lapangan.

Air Bersih untuk Senggi

Kegiatan dilaksanakan pada 14–17 Agustus 2026 dengan puncak kegiatan pada 16 Agustus. Program tersebut mencakup penyediaan dan pemasangan sistem filtrasi pada dua titik di SP1 dan SP2, sedangkan satu unit lainnya direncanakan untuk dipasang secara mandiri oleh masyarakat.

Sistem filtrasi dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik air setempat. Beberapa media yang digunakan antara lain pasir silika dan karbon aktif.

Media tersebut berfungsi membantu mengurangi partikel yang menyebabkan kekeruhan serta senyawa yang berkontribusi terhadap bau. Air dialirkan menggunakan pompa melalui media filter sehingga proses penyaringan dapat berlangsung lebih terkontrol dibandingkan sistem penampungan terbuka yang sebelumnya digunakan masyarakat.

Dipasang Bersama Masyarakat

Teknologi yang diberikan ITB tidak sekadar diserahkan kepada masyarakat, tetapi dipasang dan diperkenalkan secara langsung melalui kegiatan bersama.

Kegiatan diawali dengan sosialisasi dan serah terima simbolis, kemudian dilanjutkan dengan pemasangan secara gotong royong. Masyarakat terlibat dalam penyiapan lokasi, pemasangan komponen dan pipa, hingga pengenalan cara pengoperasian sistem.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memahami fungsi dan cara kerja perangkat, sekaligus mendukung pengelolaan serta pemeliharaannya secara mandiri setelah program selesai.

Di SP1, sistem filtrasi dipasang di Masjid Al-Muhajirin yang merupakan salah satu fasilitas umum dan banyak dimanfaatkan masyarakat.

Sebelumnya, air yang digunakan di lokasi tersebut masih keruh dan berbau. Sistem penampungan dalam bak terbuka juga dinilai memungkinkan terjadinya kontaminasi dari lingkungan sekitar.

Melalui sistem baru, air dipompa dan dialirkan melewati sejumlah media penyaring sebelum masuk ke tempat penampungan. Setelah pemasangan dan pengujian selesai, perangkat diserahterimakan kepada Ketua DKM Masjid Al-Muhajirin, Nashirudin, untuk digunakan dan dikelola.

Nashirudin menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih atas inisiatif ITB yang dinilainya memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sementara di SP2, bau air menjadi salah satu persoalan utama yang disampaikan masyarakat. Karena itu, unit filtrasi yang dipasang lebih menekankan penggunaan karbon aktif sebagai media penyaring untuk membantu mengurangi senyawa penyebab bau.

Pemasangan dilakukan bersama warga sekaligus memberikan pemahaman mengenai pengoperasian dan pemeliharaan sistem. Setelah selesai dipasang dan diperiksa, unit tersebut diserahkan kepada Ondoafi sekaligus Kepala Kampung, Patras, untuk dikelola bersama masyarakat.

Melalui program “Air Bersih untuk Senggi”, ITB bersama universitas mitra dan masyarakat setempat berupaya mengubah temuan dari Ekspedisi Patriot menjadi aksi nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

Program pengabdian berbasis kebutuhan masyarakat tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk meningkatkan akses terhadap air yang lebih bersih, sekaligus memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengoperasikan dan memelihara fasilitas air secara berkelanjutan.

Dengan pendekatan bottom-up, kebutuhan masyarakat menjadi dasar dalam merancang program, sementara perguruan tinggi berperan menghadirkan pengetahuan dan teknologi yang dapat diterapkan sesuai kondisi setempat. (Sumber: Abdul Rohman, Ph.D, DPMK ITB)

Editor: Sianturi