SALAM PAPUA (NABIRE) - Komunitas Papua Trada Sampah (PTS) Nabire bersama sejumlah Komunitas menggelar aksi bersih-bersih di pantai Nabire, Papua Tengah, Sabtu pagi (15/8/2026). Aksi bersih-bersih ini disponsori Black Pearl Network Australia.
Koordinator Lapangan PTS Nabire, Jerry Oliver Simunapendi mengaku bahwa sebelumnya sudah beberapa kali mengadakan aksi bersih-bersi di tempat tersebut.
"Kegiatan kali ini bertepatan dengan kerja sama kami bersama Ocean Youth Indonesia yang berpusat di Belitung. Kemarin mereka mengajak anak-anak muda di setiap daerah untuk menggelar aksi pembersihan sampah secara serentak di seluruh Indonesia, tepatnya di 34 Provinsi," ujar Jerry Oliver Simunapendi kepada salampapua.com, Sabtu (15/8/2026).
Dia menyambut baik kerja sama berkolaborasi dengan berbagai komunitas di Nabire secara serentak.
Hasil dari pengumpulan sampah ini, akan dilakukan pendataan terlebih dahulu, lalu datanya dikirim ke pusat untuk direkap sebagai hasil keseluruhan aksi pembersihan sampah serentak se-Indonesia.
"Kami juga didukung oleh perwakilan dari Black pearl Network Australia yang hadir sebagai sponsor sekaligus peserta yang ikut serta membersihkan sampah hari ini," ujarnya.
Hari ini, kata Oliver, pihaknya mengumpulkan nomor kontak para peserta yang hadir melalui daftar hadir untuk dimasukkan ke dalam grup percakapan. Hal ini dilakukan agar memudahkan koordinasi jika ada kegiatan lanjutan.
"Awalnya kami menyepakati kegiatan aksi ini dilakukan setiap dua minggu sekali namun karena pelaksanaannya belum maksimal, maka kami berencana membenahinya kembali. Kami mengumpulkan data dari peserta yang hadir hari ini, membuat grup, dan merencanakan," ujarnya.
Ia berharap bahwa ke depan lebih banyak pihak yang dapat berpartisipasi dalam aksi pembersihan sampah.
Menurutnya, masalah sampah adalah tanggung jawab bersama. Banyak orang yang masih menganggap sepele masalah ini, padahal dampaknya sangat besar. Permasalahan sampah dan pemanasan global itu berbanding lurus dan saling berkaitan. Bahkan fenomena kemarau saat ini yang bisa dikatakan baru pertama kali dengan kondisi cukup parah di Papua akibat penumpukan sampah yang tidak terkendali.
“Kondisi ini harus disikapi dengan serius, bukan hanya dari pihak komunitas, tetapi juga dukungan dari pihak pemerintah, agar permasalahan ini dapat ditangani bersama. Sampah ini harus menjadi perhatian bersama untuk menemukan solusinya. Target utama kita saat ini adalah menguranginya terlebih dahulu, sebab untuk menghilangkannya secara total tentu membutuhkan proses," katanya.
Pada kesempatan itu, perwakilan Black Pearl Network Australia, Mina Sarwom mengatakan bersih sampah adalah langkah kecil yang dapat memberikan dampak besar.
“Jika sampah menumpuk dan mengotori pantai, hal itu akan merusak ekosistem laut. Dengan mengurangi sampah plastik, kita turut menjaga kelestarian ekosistem laut," katanya.
Dia mengungkapkan, selama ini kegiatan PTS berjalan secara mandiri tanpa dukungan dari pemerintah.
Nabire merupakan ibu kota provinsi dan masalah sampah ini adalah tanggung jawab bersama. Gerakan ini bisa dimulai dari diri sendiri.
“Langkah kecil seperti mengurangi penggunaan sampah plastik dapat menjadi teladan bagi orang lain," ujarnya.
Ia berharap ke depannya bisa berkolaborasi untuk memberikan edukasi ke sekolah-sekolah atau lembaga lainnya.
"Edukasi tersebut bisa berupa pengolahan sampah, misalnya mendaur ulang sampah plastik menjadi kerajinan atau barang yang memiliki nilai jual kembali," tuturnya.
Ia mendesak kepada pemerintah daerah dan provinsi agar dapat menyediakan tempat sampah di sekitar pantai, khususnya bagi para penjual di area ini.
Selain itu, penting juga untuk memberi imbauan agar masyarakat memiliki kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.
“Pemerintah juga bisa menyediakan tempat sampah terpilah seperti sampah kering, sampah basah, dan sampah yang dapat didaur ulang. Dengan begitu, sampah tidak berserakan di mana-mana seperti saat ini," pungkas Awom.
Penulis: Elias
Editor: Jimmy