SALAM PAPUA (NABIRE) – Pemerintah Provinsi Papua Tengah menggelar rapat darurat (emergency meeting) menyusul munculnya sejumlah titik kebakaran dan kepulan asap yang terlihat di wilayah Kabupaten Nabire dalam beberapa jam terakhir.
Rapat koordinasi tersebut melibatkan berbagai pihak lintas sektor, di antaranya jajaran Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Dinas Kehutanan, BPBD, Dinas Kesehatan, Kepolisian, BMKG, BNPB, hingga RRI.
Pj Sekda Papua Tengah, Silwanus Sumule, mengatakan rapat tersebut digelar untuk mengidentifikasi kondisi di lapangan sekaligus merumuskan langkah penanganan kebakaran secara cepat, terpadu, dan terukur.
“Berdasarkan komunikasi dan data dari BMKG serta BNPB, terdapat sejumlah titik kebakaran di Kabupaten Nabire. Agustus dan September diprakirakan menjadi puncak musim kemarau, sehingga langkah-langkah taktis harus segera dilakukan,” ujar Silwanus Sumule.
Dari hasil inventarisasi awal, keterbatasan armada pemadam kebakaran menjadi salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran di lapangan.
Saat ini, armada yang tersedia terdiri dari enam unit mobil pemadam kebakaran gabungan milik Pemerintah Provinsi Papua Tengah dan Pemerintah Kabupaten Nabire.
Selain itu, Kepolisian turut memberikan dukungan melalui dua unit mobil water cannon yang dimanfaatkan untuk membantu proses pemadaman di sejumlah titik.
Untuk mengatasi keterbatasan armada, Pemprov Papua Tengah membuka ruang kerja sama dengan masyarakat maupun pihak swasta yang memiliki truk tangki air agar dapat membantu memobilisasi pasokan air ke lokasi pemadaman.
Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan kebutuhan air bagi armada pemadam tetap tersedia, terutama apabila kebakaran terjadi di sejumlah titik secara bersamaan.
Sebagai tindak lanjut rapat darurat tersebut, Pemprov Papua Tengah akan menggelar apel bersama pada Senin mendatang. Apel tersebut bertujuan mengonsolidasikan seluruh personel dan tim gabungan yang terlibat dalam penanganan kebakaran.
“Senin mendatang kita akan menggelar apel bersama untuk mengonsolidasikan seluruh personel dan tim gabungan yang terlibat,” jelas Silwanus.
Setelah apel, koordinasi lanjutan akan dilakukan untuk menyusun strategi pemadaman yang lebih terarah dan terukur berdasarkan kondisi masing-masing titik kebakaran.
Dalam rapat tersebut, Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah V juga dijadwalkan memberikan analisis mengenai perkembangan titik panas (hotspot).
BBMKG Wilayah V melalui Yustus Rumakiek, S.Si., akan memaparkan analisis sebaran hotspot tidak hanya di Kabupaten Nabire, tetapi juga di sejumlah kabupaten lain di Provinsi Papua Tengah.
Pj Sekda Papua Tengah mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan turut berperan dalam mencegah meluasnya kebakaran hutan dan lahan.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, termasuk tidak membuang puntung rokok yang masih menyala di area terbuka.
“Tidak membuang puntung rokok yang masih menyala di area terbuka,” tegasnya.
Pemprov Papua Tengah juga mengingatkan masyarakat untuk segera memadamkan api apabila menemukan titik kebakaran kecil yang masih dapat dijangkau.
Sementara apabila kebakaran sudah tidak terkendali, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada petugas melalui posko terpadu agar dapat ditangani secepatnya.
Saat ini, posko utama penanganan kebakaran difokuskan di Kantor BPBD Provinsi Papua Tengah. Pemerintah provinsi juga akan segera menyebarluaskan nomor kontak darurat (call center) posko sehingga masyarakat dapat lebih mudah menyampaikan laporan mengenai titik kebakaran.
“Posko utama penanganan kebakaran difokuskan di Kantor BPBD Provinsi Papua Tengah. Nomor kontak darurat posko akan segera disebarluaskan agar masyarakat dapat dengan mudah melapor,” pungkas Sumule.
Penulis: Elias
Editor: Sianturi