SALAM PAPUA (TIMIKA) – Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Mimika menggelar pelatihan Sport Massage dan reposisi cedera bagi mahasiswa serta guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK).
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 28-29 Agustus 2026, tersebut digelar di Hotel Horison Diana, Jalan Budi Utomo, Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.
Kepala SLBN Mimika, Sunardin, S.Pd., Gr, mengatakan pelatihan tersebut merupakan bagian dari pemanfaatan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja Prestasi yang diterima SLBN Mimika.
Menurutnya, SLBN Mimika selama beberapa tahun terakhir konsisten menorehkan prestasi dalam berbagai kompetisi olahraga, seni, dan keterampilan, termasuk hingga tingkat nasional. Karena itu, peningkatan kapasitas guru, khususnya tenaga pendamping olahraga, menjadi salah satu perhatian sekolah.
“Tahun ini SLBN Mimika kembali mendapatkan BOS Kinerja Prestasi. Salah satu program prioritas kami adalah pembinaan kapasitas tenaga guru PJOK. Kami ingin memastikan mereka memiliki kompetensi standar dalam menangani atlet,” ujar Sunardin.
Ia menjelaskan, kemampuan menangani cedera menjadi keterampilan penting bagi guru PJOK maupun pendamping atlet. Penanganan cedera tidak dapat dilakukan sembarangan, tetapi harus memperhatikan kondisi cedera, anatomi tubuh, keamanan korban, serta prosedur penanganan yang tepat.
Melalui pelatihan tersebut, para peserta diharapkan dapat memperoleh Lisensi Level 1 Standar Nasional sebagai salah satu dasar kompetensi dalam penanganan cedera olahraga.
“Lisensi ini menjadi dasar legalitas dan kompetensi untuk penanganan cedera. Dengan adanya lisensi, ke depannya seluruh peserta pelatihan ini bisa dilibatkan secara resmi dalam event-event olahraga, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi,” katanya.
Sunardin menilai keterampilan penanganan cedera juga sangat penting bagi tenaga pendidik di lingkungan SLB. Menurutnya, peserta didik berkebutuhan khusus memiliki karakteristik dan pola gerakan yang berbeda-beda sehingga membutuhkan perhatian khusus, termasuk dalam aktivitas olahraga.
“Anak-anak di SLB sangat aktif dengan keunikannya masing-masing. Mereka memiliki gerakan yang kadang tanpa kendali penuh, sehingga risiko cedera cukup tinggi. Guru PJOK wajib memiliki skill pertolongan pertama yang memadai,” jelasnya.
Pelatihan tersebut sekaligus menjadi tindak lanjut dari Nota Kesepahaman (MoU) antara SLBN Mimika dan STKIP Hermon Timika.
Narasumber utama dalam kegiatan tersebut adalah dosen STKIP Hermon Timika, Herwin, yang telah mengantongi Lisensi Level 2 Nasional. Herwin juga terlibat dalam kepengurusan Timnas Atletik Wilayah Timur pada bidang penanganan cedera.
Herwin mengatakan, materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada praktik sport massage, tetapi juga mencakup pemahaman dasar anatomi tubuh, psikologi atlet, teknik relaksasi otot, hingga penanganan dan reposisi cedera berdasarkan kategorinya.
“Peserta harus memahami bahwa setiap titik anatomi yang mengalami cedera memiliki matra atau pendekatan penanganan masing-masing. Tidak bisa disamaratakan. Oleh karena itu, pelatihan ini menggabungkan teori dan praktik intensif selama dua hari,” kata Herwin.
Selama pelatihan, peserta juga diberikan kesempatan untuk mempraktikkan secara langsung teknik penanganan terhadap atlet yang mengalami cedera dengan pendampingan narasumber.
Herwin berharap, peserta tidak hanya memahami teori, tetapi mampu menerapkan prosedur penanganan secara tepat ketika mendampingi atlet dalam berbagai kegiatan olahraga.
“Tujuan akhirnya adalah mencetak tenaga pendamping atlet yang kompeten. Ketika mereka terjun langsung dalam sebuah event, mereka sudah memiliki kemampuan dasar untuk memberikan penanganan yang tepat sehingga risiko cedera berkelanjutan dapat diminimalkan,” ujarnya.
Pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas guru PJOK dan mahasiswa dalam mendukung pembinaan olahraga di Mimika, sekaligus meningkatkan standar keamanan dalam pendampingan atlet di berbagai ajang olahraga.
Penulis: Acik
Editor: Sianturi