Monsun Timuran Picu Hujan Ringan Berkepanjangan Di Mimika, BMKG: Berpotensi Berlangsung Hingga September

Monsun Timuran Picu Hujan Ringan Berkepanjangan Di Mimika, BMKG: Berpotensi Berlangsung Hingga September Forecaster BMKG Mozes Kilangin Timika, William Titahena saat ditemui di ruang Forecaster Timika, Jumat (26/6/2026)(Salampapua.com/Evita)

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Mozes Kilangin Timika menyebut Kabupaten Mimika saat ini tengah memasuki puncak musim hujan yang dipengaruhi oleh fenomena Monsun Timuran. Kondisi tersebut menyebabkan hujan ringan terjadi lebih sering dengan durasi yang relatif panjang.

Forecaster BMKG Mozes Kilangin Timika, William Titahena, mengatakan pola cuaca tersebut diperkirakan berlangsung pada periode Juni hingga Agustus, bahkan berpotensi berlanjut hingga September 2026.

“Saat ini Mimika memang sedang memasuki musim hujan. Karakteristiknya lebih didominasi hujan ringan dengan durasi yang cukup lama dibandingkan hujan berintensitas sedang atau lebat,” ujar William saat ditemui di ruang Forecaster BMKG Mozes Kilangin Timika, Jumat (26/6/2026).

Ia menjelaskan, hujan ringan umumnya terjadi pada malam hingga dini hari, kemudian diikuti kondisi langit mendung pada pagi hari. Memasuki siang, cuaca terkadang cerah dalam waktu singkat sebelum kembali berawan atau mendung pada sore hari.

Menurut William, pola tersebut dipengaruhi dominasi awan stratiform dan awan menengah yang menutupi sebagian besar wilayah langit sehingga sinar matahari sulit menembus permukaan bumi.

Selain itu, arah angin yang bertiup dari timur laut hingga tenggara membawa massa udara lembap dari wilayah laut di selatan Papua, sehingga mendukung terbentuknya hujan dengan intensitas ringan namun berlangsung dalam waktu yang lebih lama.

“Kondisi ini berbeda dengan hujan yang dipicu awan konvektif atau cumulonimbus. Kalau awan cumulonimbus biasanya menghasilkan hujan sedang hingga lebat dalam waktu singkat, sedangkan sekarang lebih didominasi hujan ringan yang berlangsung lebih lama,” jelasnya.

William menambahkan, selama periode Monsun Timuran, potensi terjadinya petir relatif rendah karena jenis awan yang mendominasi bukan merupakan awan pembentuk badai guntur.

Sementara itu, kecepatan angin di wilayah Mimika umumnya berkisar antara 8 hingga 10 knot atau tergolong rendah hingga sedang, sehingga tidak berpotensi menimbulkan gangguan cuaca yang signifikan.

“Untuk petir pada musim hujan seperti sekarang memang relatif jarang, bahkan bisa saja tidak terjadi. Begitu juga dengan kecepatan angin yang umumnya hanya berkisar 8 sampai 10 knot,” pungkasnya.

BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau informasi prakiraan cuaca yang dikeluarkan secara berkala, terutama bagi nelayan, pelaku transportasi, dan masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, agar dapat mengantisipasi perubahan kondisi cuaca.

Penulis: Evita

Editor: Sianturi