SALAM PAPUA (TIMIKA) – Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar Pelatihan 25 Keterampilan Dasar Kader Posyandu Bidang Kesehatan Tahun 2026. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan primer berbasis masyarakat serta mendukung program Transformasi Layanan Primer (TLP) yang dicanangkan oleh Kementerian Kesehatan RI.
Acara yang berlangsung di Hotel Horison Diana Timika tersebut resmi dibuka Kepala Bidang Kesehatan Lanjutan, Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinkes Mimika, Farida, pada Selasa (28/7/2026).
Farida menjelaskan bahwa pelatihan ini diikuti oleh 90 kader Posyandu dari seluruh Puskesmas di Kabupaten Mimika dan akan berlangsung selama empat hari, pada 28-31 Juli 2026.
Kader Posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat. Oleh karena itu, pembekalan kompetensi yang memadai sesuai standar nasional menjadi sangat krusial.
"Pelatihan ini bukan hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi juga meningkatkan keterampilan kader Posyandu agar mampu memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas kepada masyarakat sesuai standar Transformasi Layanan Primer. Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti setiap materi dengan sungguh-sungguh dan menerapkannya di wilayah kerja masing-masing," ujar Farida.
Ia menjelaskan bahwa konsep Posyandu saat ini telah bertransformasi. Tidak lagi hanya berfokus pada ibu dan balita, cakupan pelayanan kini mencakup seluruh siklus kehidupan, mulai dari ibu hamil, bayi, balita, remaja, usia produktif, hingga lanjut usia (Lansia).
"Kader Posyandu memiliki peran yang sangat strategis dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Karena itu, mereka harus memiliki kompetensi dalam komunikasi perubahan perilaku, pengukuran antropometri, kunjungan rumah, pencatatan dan pelaporan, hingga pelaksanaan rujukan sesuai kewenangannya," tambahnya.
Dia mengungkapkan, selama empat hari pelatihan para peserta akan menerima materi komprehensif meliputi kebijakan TLP, pengelolaan Posyandu, komunikasi perubahan perilaku, pelayanan kesehatan ibu hamil, nifas, bayi, dan balita. Selain itu, ada materi khusus mengenai pengukuran antropometri standar, pemantauan tumbuh kembang, edukasi gizi, pencegahan stunting, serta pelayanan kesehatan bagi remaja, usia produktif, lansia, dan deteksi dini Penyakit Tidak Menular (PTM).
Metode pembelajaran dilakukan secara interaktif melalui ceramah, diskusi, demonstrasi, praktik langsung, simulasi, role play, studi kasus, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test.
“Kami berharap pasca pelatihan, seluruh kader mampu mengimplementasikan 25 keterampilan dasar Posyandu secara optimal di wilayahnya masing-masing. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan aksesibilitas dan kualitas layanan kesehatan bagi masyarakat Mimika, sekaligus mendukung percepatan penurunan angka stunting dan pencapaian indikator pembangunan kesehatan daerah,” tutupnya
Penulis: Acik
Editor: Jimmy