SALAM PAPUA (NABIRE) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Nabire mencatat jumlah titik panas atau hotspot di wilayah Provinsi Papua Tengah mulai mengalami penurunan setelah sebelumnya meningkat akibat kondisi cuaca kering dan rendahnya curah hujan selama musim kemarau.
Kepala BMKG Nabire, Husain Kamadi, mengatakan kondisi cuaca di Papua Tengah dalam satu pekan ke depan diprakirakan masih didominasi cuaca cerah hingga berawan.
“Jadi kalau kita lihat, artinya masih dalam satu pekan ke depan kondisi cuaca kita masih cerah hingga berawan,” ujar Husain saat diwawancarai, Senin (24/8/2026).
Ia menjelaskan, berdasarkan pemantauan hingga Minggu (23/8/2026) pukul 21.00 WIB, jumlah hotspot di seluruh wilayah Provinsi Papua Tengah tercatat sebanyak 378 titik.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 38 titik memiliki tingkat kepercayaan rendah, 307 titik tingkat kepercayaan sedang, dan 33 titik tingkat kepercayaan tinggi.
Sementara khusus di Kabupaten Nabire, tercatat 108 hotspot, terdiri dari 15 titik dengan tingkat kepercayaan rendah, 85 titik tingkat kepercayaan sedang, dan delapan titik dengan tingkat kepercayaan tinggi.
Husain mengatakan jumlah tersebut menunjukkan adanya penurunan yang cukup signifikan dibandingkan hari sebelumnya. Ia mengapresiasi langkah pencegahan dan penanganan yang dilakukan BPBD, TNI, dan Polri dalam mengantisipasi meluasnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
“Artinya dari data ini kita bersyukur dengan adanya kegiatan pencegahan yang dilakukan BPBD, TNI, Polri, artinya ada pengurangan. Kita bisa melihat bahwa terjadi pengurangan yang cukup signifikan dibandingkan dengan hari sebelumnya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kehutanan dan Pertanahan (DLHKP) Provinsi Papua Tengah, Yan Richard Pugu, mengatakan penanganan Karhutla harus dilakukan dengan mengedepankan langkah preemtif dan preventif.
Menurutnya, pemerintah tidak boleh hanya bergerak setelah kebakaran terjadi. Upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat harus berjalan bersamaan dengan proses pemadaman di lapangan.
“Memang saat ini kejadian kebakaran sudah terjadi, penanganan berjalan, tapi saat yang bersamaan langkah-langkah preventif ini tetap jalan,” ujar Pugu.
Ia mengatakan DLHKP terus melakukan penyebarluasan informasi kepada masyarakat mengenai bahaya Karhutla dan pentingnya mencegah pembakaran lahan. Penyampaian informasi dilakukan melalui berbagai sarana, termasuk berkoordinasi dengan Radio Republik Indonesia (RRI) serta memanfaatkan unit-unit pelayanan dan armada di lapangan.
Pugu meminta masyarakat ikut berperan dalam mencegah terjadinya kebakaran, terlebih kondisi cuaca saat ini cukup rawan.
“Memang saat ini rawan kalau misalnya ada yang sengaja ataupun tidak sengaja membakar lahan. Kondisi yang ada, saat api sudah ada dan kondisi angin mendukung, kejadian kebakaran bisa semakin hebat,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat di Papua Tengah, khususnya wilayah yang terdampak Karhutla, untuk mengikuti informasi dan imbauan dari pemerintah serta bersama-sama melakukan pencegahan.
Menurut Pugu, penanganan Karhutla membutuhkan keterlibatan seluruh pihak sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan secara bersamaan dan berkelanjutan antara pemerintah dan masyarakat.
“Pencegahan itu bisa bersama, bersimultan antara pemerintah dan masyarakat,” pungkasnya.
Penulis: Elias
Editor: Sianturi