Ini Cerita Masa Depan Lima Anak SATP Timika, Dari Lapangan Bola Hingga Mimpi Membangun Papua (dari kiri) Roy, Yoram Kum, Petronella Mitoro, Septian Aim, Isak Kiwak, Williante Dolame dan Kepala Sekolah Sekolah Asrama Taruna Papua, Sonianto Kuddi, BSc MPd di sekolah tersebut, Selasa (8/9/2026)(Salampapua.com/Sianturi)

Ini Cerita Masa Depan Lima Anak SATP Timika, Dari Lapangan Bola Hingga Mimpi Membangun Papua

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) Timika yang dibina oleh Yayasan Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) selaku pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia bukan sekadar tempat bagi anak-anak Papua untuk belajar. Di balik kehidupan yang teratur, jauh dari orang tua dan keluarga, tersimpan cerita tentang bagaimana anak-anak ditempa menjadi pribadi yang mandiri, disiplin, berprestasi, sekaligus tetap mengenal akar budaya mereka.

Lima siswa SATP berikut memiliki cerita dan cita-cita yang berbeda. Mereka adalah Septian Aim, Yoram Kum, Isak Kiwak, Wiliante Dolame dan Petronella Mitoro.  Ada yang bermimpi menjadi pemain sepak bola, pengusaha, dokter, hingga dokter hewan. Namun, mereka memiliki satu kesamaan: ingin menggunakan pendidikan yang diperoleh untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi Tanah Papua.

Septian Aim: Mengejar Mimpi Menjadi Pesepak Bola

Septian Aim, siswa kelas IX B SMP SATP dari suku Amungme, telah menorehkan sejumlah prestasi, terutama di bidang olahraga.

Ia membukukan 20 gol dalam ajang Mini Soccer Kapolda Papua Tengah 2026. Septian juga pernah mengikuti program Bina Talenta di Institut Teknologi Del, Sumatera Utara. Dalam program tersebut, ia bersama timnya meraih penghargaan kamar terbaik se-Indonesia dari aspek karakter dan kemampuan coding.

Tidak hanya olahraga dan teknologi, Septian juga menunjukkan kemampuan akademiknya. Ia terpilih mewakili Kabupaten Mimika dalam Olimpiade Sains dan Matematika tingkat Papua Tengah dan berpeluang melanjutkan ke tingkat nasional.

Namun, kehidupan di asrama tidak selalu mudah baginya. Saat pertama kali tinggal di SATP, Septian mengaku sempat merasa sedih dan ingin pulang karena merindukan bapak, mama, rumah, dan keluarganya.

Nasihat orang tua menjadi salah satu pegangan yang membuatnya mampu bertahan. Ia selalu diingatkan untuk menghormati guru dan pembina serta menaati aturan yang berlaku di asrama.

Seiring waktu, rasa rindu tersebut perlahan tergantikan oleh kebersamaan dengan teman-temannya dari berbagai kampung.

Kini Septian memiliki satu mimpi besar setelah menyelesaikan pendidikan di SATP, yakni menjadi pemain sepak bola profesional.

“Kenapa jadi pemain bola, karena memang turun dari ayahnya. Jovian, kakak kandung yang bermain di Akademi WBFC, saya ingin ke sana bergabung,” ujarnya.

Bagi Septian, sepak bola bukan sekadar permainan. Ia ingin melanjutkan sekolah sekaligus mengembangkan kemampuannya di dunia sepak bola, termasuk bergabung dengan Akademi WBFC ketika memasuki usia 16 tahun.

Yoram Kum: Dari Asrama Menuju Mimpi Menjadi Pengusaha

Berbeda dengan Septian, Yoram Kum, siswa kelas IX A dari suku Amungme, menatap masa depannya dari dunia bisnis.

Yoram telah tinggal di SATP sejak kelas I SD, ketika usianya baru sekitar delapan tahun. Keinginannya masuk SATP berawal ketika seorang temannya memperkenalkan sekolah tersebut.

Saat melihat kehidupan di SATP, Yoram tertarik dan menyampaikan keinginannya kepada orang tua. Ia kemudian didaftarkan dan akhirnya diterima di sekolah yang saat itu masih dikenal sebagai SD Penjunan.

Berbeda dengan sebagian anak yang mengalami kerinduan terhadap rumah, Yoram mengaku sejak awal justru merasa senang.

“Waktu itu saya tidak merasa homesick (rindu rumah), malah senang karena memang dari awal saya yang mau dan bilang ke orang tua mau masuk sekolah ini. Jadi harus siap jauh dari keluarga,” ujarnya.

Menurut Yoram, kehidupan di asrama memberikan banyak keuntungan karena kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari telah disiapkan.

“Kalau sekolah di luar nanti orang tua yang tanggung dan berusaha sendiri. Dari sisi ekonomi, orang tua yang akan berusaha dan menanggung. Namun di asrama semua sudah ditanggung,” katanya.

Rutinitas yang teratur juga membentuk kedisiplinannya. Setiap pagi ia bangun, berdoa, merapikan tempat tidur, kemudian mengikuti jadwal makan dan pembelajaran yang telah ditetapkan guru dan pembina.

Pada sore hari, kegiatan dilanjutkan dengan pengembangan diri dan ekstrakurikuler. Waktu tersebut juga dimanfaatkan untuk mengulang materi pembelajaran.

Yoram kemudian menemukan minatnya pada matematika. Kemampuan tersebut membawanya mengikuti ajang Asian International Mathematical Olympiad (AIMO) di Jepang setelah lolos seleksi yang digelar di Sekolah Integral Timika.

Ia berangkat bersama tiga rekannya dan berhasil meraih Merit Award, sebuah penghargaan yang menunjukkan bahwa dirinya memiliki potensi untuk terus mengembangkan kemampuan matematika.

“Bagi saya sangat senang bisa melihat gedung-gedung tinggi dan kota di sana sangat indah. Saya ingin kembali untuk bersekolah di sana (Jepang),” tuturnya.

Pengalaman di Jepang semakin membuka pandangannya tentang pentingnya disiplin. Ia melihat masyarakat di Jepang sangat menghargai waktu dan keteraturan. Namun, cita-cita Yoram bukan menjadi ahli matematika. Ia ingin menjadi pengusaha.

Menurutnya, Papua memiliki sumber daya alam yang sangat besar dan dapat dikembangkan menjadi berbagai usaha, termasuk sektor pertanian.

“Kalau membuka bisnis yang sumbernya dari alam seperti bisnis hasil pertanian bisa dikelola dan juga bisa membuka lowongan kerja bagi orang-orang Papua,” katanya.

Ia meyakini kemampuan matematika yang dipelajarinya akan membantu ketika kelak menjalankan bisnis karena setiap keputusan usaha membutuhkan perhitungan yang matang.

“Belajar untuk mencapai cita-cita dengan sungguh-sungguh. Ibarat pepatah, berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian; bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian,” ujarnya.

Isak Kiwak: Ingin Menjadi Pengusaha

Isak Kiwak, siswa kelas VI A SATP dari suku Damal, juga telah merasakan kehidupan asrama sejak kelas I SD. Baginya, tinggal di asrama memberikan kenyamanan karena kebutuhan dasar dan pendidikan telah tersedia.

“Di asrama kan enak, karena di sini saya bisa makan. Kalau di luar belum tentu bisa makan. Makanannya gratis dan enak-enak. Sehari bisa makan lima kali dan bisa timba (ambil banyak),” ujarnya polos.

Kebersamaan dengan teman-teman dari berbagai kampung juga membuat Isak tidak merasa kesepian. Ia mengaku terbiasa makan, tidur, belajar, dan bermain bersama teman-temannya dalam satu lingkungan.

Untuk meraih prestasi, Isak berusaha memanfaatkan waktu belajar sebaik mungkin. Setelah mengikuti pembelajaran di kelas, ia kembali mengulang materi dan menghafal pelajaran agar lebih siap menghadapi ujian.

Di bidang akademik, Isak terpilih mewakili SATP dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan berhasil lolos ke tingkat Provinsi Papua Tengah untuk bidang IPS.

“Saya harus belajar lebih keras supaya bisa mewakili SATP dan menjadi yang terbaik,” paparnya.

Di bidang nonakademik, Isak juga meraih juara II Kumite cabang olahraga karate tingkat Kabupaten Mimika. Meski memiliki kemampuan bela diri, Isak mengatakan dirinya selalu diajarkan untuk rendah hati dan tidak menggunakan kemampuan tersebut untuk mengganggu atau menyakiti teman.

Perubahan sikapnya juga dirasakan orang tua ketika Isak pulang ke rumah. Ia kini terbiasa membantu pekerjaan rumah, termasuk menyapu. Anak keempat dari tujuh bersaudara ini memiliki cita-cita menjadi pengusaha.

“Saya nanti mau jadi pengusaha karena nanti akan punya banyak uang. Belum tahu mau bisnis apa nanti, yang penting belajar dulu sekarang,” ungkapnya.

Bagi Isak, SATP merupakan sekolah yang memberikan kesempatan besar kepada anak-anak Papua untuk mendapatkan pendidikan sekaligus membentuk karakter.

“Saya juga berharap teman-teman di kampung bisa merasakan apa yang saya rasakan di sini. Di sini banyakan enaknya,” tambahnya.

Wiliante Dolame: Mimpi Menjadi Dokter untuk Kampung

Wiliante Dolami, siswi dari suku Amungme yang akrab disapa Willi, menemukan perubahan besar dalam dirinya setelah tinggal di asrama.

Menurutnya, kehidupan di SATP mengajarkan banyak hal yang sebelumnya tidak terbiasa dilakukan di rumah, mulai dari menjaga kebersihan, mencuci pakaian hingga mengatur barang-barang pribadi.

“Di asrama saya jadi tahu caranya menyapu yang benar itu bagaimana. Juga cuci pakaian dan urus lemari. Pokoknya pekerjaan yang tadinya di rumah saya tidak tahu menjadi bisa,” ujarnya.

Willi kini menekuni bidang IPA karena tertarik mempelajari alam, organ tubuh manusia, hewan, serta berbagai kehidupan di sekitarnya.

Kerja kerasnya membawanya menjadi salah satu siswa yang mewakili sekolah dalam berbagai kegiatan akademik. Ia mengikuti Junior Science Olympiad (JSO) di Sekolah Integral Timika dan berhasil meraih juara I.

Ia kemudian mewakili Kabupaten Mimika di tingkat Papua Tengah, meski belum berhasil melanjutkan ke tingkat nasional.

Bagi Willi, pendidikan tidak membuatnya melupakan identitas sebagai perempuan Amungme. Ia tetap menjaga budaya, termasuk mengenakan noken ketika beraktivitas di sekolah. Di tengah lingkungan sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris, ia juga tetap menggunakan bahasa daerah ketika memiliki kesempatan.

“Kalau ada waktu kosong, kalau di sekolah kan menggunakan bahasa Inggris dan Indonesia, bisa bercerita dengan bahasa daerah sehingga budaya kita tidak hilang,” paparnya.

Dari semua pengalaman tersebut, Willi memiliki satu cita-cita besar: menjadi dokter. Ia ingin kembali ke kampung-kampung di Tanah Papua yang masih menghadapi keterbatasan pelayanan kesehatan.

Keinginannya semakin kuat karena melihat sendiri masih banyak masyarakat di sekitarnya yang mengalami kesulitan mendapatkan pelayanan kesehatan.

“Dari awalnya kita tidak tahu, ketika masuk asrama, mengikuti semua aturan dan tata tertib yang berlaku di asrama ini membantu kita menjadi lebih baik,” katanya.

Willi percaya, pendidikan yang diperolehnya di SATP dapat menjadi bekal untuk mewujudkan mimpinya sekaligus membantu masyarakat Papua.

Petronella Mitoro: Dokter Hewan untuk Menjaga Satwa Papua

Cerita lainnya datang dari Petronella Mitoro, siswi kelas VI A dari suku Kamoro.

Petronella telah tinggal di SATP sejak kelas I SD. Berasal dari Gorong-Gorong, Timika, ia merasakan kehidupan di asrama memberikan pengalaman yang sebelumnya belum tentu didapatkan di kampung.

“Bisa belajar bersama bapak dan ibu guru dan teman-teman semua itu sesuatu yang luar biasa. Kalau di asrama juga bisa bertemu dengan para pembina yang mengajar saya caranya berpakaian,” jelasnya.

Pendidikan dan pembinaan di SATP kemudian membantunya meraih prestasi. Petronella berhasil meraih juara III di bidang Sains IPS. Namun, cita-citanya justru tumbuh dari kecintaannya terhadap hewan.

Ia ingin menjadi dokter hewan agar dapat membantu menjaga satwa dan kearifan lokal Papua. Baginya, hewan-hewan seperti kuskus, berbagai jenis burung hingga elang juga membutuhkan perhatian dan perawatan ketika sakit atau terluka.

Petronella mengaku sejak kecil telah memiliki ketertarikan terhadap hewan dan senang mempelajarinya.

Kehidupan di asrama juga tidak membuatnya melupakan budaya Kamoro. Ia masih mengingat aktivitas tradisional seperti menangkap ikan dan memangkur sagu. Ia juga tetap belajar dan menampilkan tari Sekka.

Mimpi Petronella tidak berhenti pada profesi dokter hewan. Ia juga ingin membantu masyarakat Papua mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

“Saya kelak dengan profesi sebagai dokter hewan juga akan membantu masyarakat Papua agar bisa bersekolah dan berencana membangun sekolah. Saya berterima kasih kepada semua guru dan pembina yang terus mengajari kami hingga bisa sejauh ini,” imbuhnya.

Lima Mimpi, Satu Tanah Air

Lima anak tersebut tumbuh dalam lingkungan pendidikan yang sama, tetapi memiliki jalan masa depan yang berbeda.

Septian ingin mengejar karier di lapangan hijau. Yoram ingin menjadi pengusaha dengan memanfaatkan potensi ekonomi Papua. Isak juga ingin menjadi pengusaha. Willi bermimpi menjadi dokter yang dapat melayani masyarakat di kampung-kampung, sementara Petronella ingin menjadi dokter hewan sekaligus ikut menjaga kekayaan alam dan budaya Papua.

Di balik cita-cita tersebut, SATP menjadi ruang bagi mereka untuk belajar jauh dari keluarga, mengenal disiplin, membangun kemandirian, mengasah kemampuan akademik dan nonakademik, sekaligus menjaga identitas sebagai anak Papua.

Mereka mungkin masih duduk di bangku SD dan SMP. Namun, dari ruang kelas, lapangan olahraga, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kehidupan sehari-hari di asrama, perlahan mereka sedang menyiapkan diri untuk sebuah masa depan.

Masa depan yang mereka bayangkan bukan hanya tentang pekerjaan dan kesuksesan pribadi, tetapi juga tentang bagaimana suatu hari nanti dapat kembali memberi sesuatu bagi Tanah Papua.

Penulis: Sampe P Sianturi/Salampapua.com