SALAM PAPUA (EDITORIAL) - Setiap 12 Agustus, dunia memperingati Hari Pemuda Internasional. Tahun ini, PBB mengangkat tema “Konteks Berbeda, Aspirasi yang Sama.”
Tema ini menyampaikan pesan sederhana namun mendalam, meskipun pemuda di berbagai belahan dunia hidup dalam kondisi dan realitas yang beragam, harapan dan cita-cita mereka tetap sama, yaitu hidup bermartabat, memperoleh pendidikan berkualitas, pekerjaan yang layak, kesempatan berperan serta, dan masa depan yang berkelanjutan.
Di Kabupaten Mimika pun demikian. Kita hidup di tanah yang kaya namun masih menghadapi banyak tantangan. Namun harapan kita, kemajuan, keadilan, dan kesejahteraan bersama. Tidak berbeda dengan aspirasi pemuda di manapun.
Tema ini menjadi pengingat, meskipun konteks kita berbeda, semangat untuk membangun masa depan yang lebih baik adalah tujuan yang sama.
Suara Pemuda Harus Didasari Fakta dan Sekaligus Alternatif Solusi
Kita mengakui, suara pemuda adalah bagian penting dari dinamika kemajuan. Kritik yang disampaikan merupakan cermin kepedulian. Namun belakangan ini muncul kecenderungan yang perlu kita perbaiki. Kritik disampaikan secara lantang di ruang publik dan media, namun belum selalu didasari data yang akurat, fakta yang lengkap, atau kajian yang mendalam. Lebih jarang lagi yang disertai tawaran solusi yang konkret dan dapat dijalankan.
Maksud data yang akurat dan fakta yang lengkap di sini adalah sebuah kondisi yang bersifat komunal yang menggejala dan berdampak negarif di masyarakat, bukan hanya melihat situasi sempit dari sebuah objek tanpa melihat objek tersebut dalam sebuah komunitas.
Artinya, misalnya, di dalam sebuah kampung ada satu keluarga miskin, namun keluarga-keluarga yang lain di kampung tersebut hidupnya layak secara ekonomi. Maka ini belum langsung dapat diangkat dan dijustifikasi sebagai sebuah isu kemiskinan dalam sebuah masyarakat. Karena bisa saja keluarga yang miskin itu, kemiskinannya atas kesalahannya sendiri. Jadi fakta itu harus dilihat dan dipastikan secara menyeluruh sebelum dinyatakan sebagai sebuah isu atau masalah.
Itulah sebabnya, mengkritik tanpa landasan fakta ibarat membangun tanpa fondasi. Menunjuk kekurangan tanpa menawarkan alternatif perbaikan hanya melahirkan perdebatan, bukan perubahan. Pemuda seharusnya menjadi pelopor gagasan, bukan sekadar penyampai pendapat tanpa alternatif langkah yang lebih baik.
Tolak Propaganda, Bangun Pikiran Positif
Pemuda Mimika juga harus waspada dan tidak terjebak dalam isu-isu propaganda yang sengaja dibangun hanya untuk menciptakan pandangan negatif semata, memicu perpecahan, dan menebarkan ketidakpercayaan di publik tanpa dasar yang jelas.
Jangan biarkan pikiran dan tenaga tersedot oleh narasi yang hanya menabur keburukan. Jadilah pemuda yang selalu berdiri di garis terdepan membangun peradaban yang berpikiran positif, konstruktif, dan senantiasa memperkuat kebersamaan serta persatuan antar sesama di tanah ini.
Prioritas dan Konsisten Peduli Urusan di Daerah Sendiri
Selain itu, Pemuda di Mimika jangan hanya bersuara lantang dan ramai di ruang publik ketika membahas isu-isu berskala nasional yang jauh dari keseharian, namun justru sepi atau bahkan bungkam dan diam seribu bahasa ketika menghadapi persoalan-persoalan penting yang terjadi di depan mata sendiri, di daerah tempat kita tinggal dan tumbuh.
Jangan biarkan kepedulianmu lebih besar untuk hal yang jauh, namun tumpul dan lemah saat menghadapi urusan rumah tangga daerah sendiri.
Pemuda yang sejati adalah mereka yang paling peduli dan paling bersungguh-sungguh membangun tempat di mana ia berpijak, baik untuk urusan besar maupun hal-hal kecil yang menyentuh kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Peran KNPI dan OKP: Tolak Materialisme dan Oportunis, Perkuat Pendidikan dan Budaya Kerja
Di sini peran nyata Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) dan Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) menjadi sangat strategis. Organisasi pemuda bukan sekadar wadah berkumpul, melainkan garda terdepan dalam membentuk karakter dan arah pergerakan pemuda daerah.
KNPI dan seluruh OKP harus tegas menolak dua hal yang sering merusak pergerakan pemuda: budaya materialisme yang mengutamakan keuntungan sesaat di atas pengabdian, serta sikap oportunis yang memanfaatkan kedudukan untuk kepentingan pribadi atau kelompok semata.
Perkuatlah dua pilar utama: pertama, proses pendidikan yang ketat. Bekali kader dan seluruh pemuda dengan wawasan yang luas, kemampuan berpikir yang tajam, serta kedewasaan bersikap agar setiap pandangan disampaikan dengan dasar yang kuat dan bertanggung jawab.
Kedua, tanamkan budaya kerja yang ulet. Hilangkan mentalitas penunggu dan sikap mudah menyerah. Tunjukkan bahwa kemajuan tidak diraih hanya dengan kata-kata, melainkan dengan keringat, ketekunan, dan kesungguhan bekerja. Jadikan organisasi pemuda sebagai tempat melatih pemikir yang cerdas sekaligus pelaku kerja yang tangguh.
Akhirulkalam, kepada segenap pemuda Mimika, sampaikanlah kepedulianmu. Namun perkuat setiap pandangan dengan fakta yang sahih dan tawaran solusi yang nyata. Jadilah pemuda yang bijak memilah informasi, menolak narasi yang memecah belah, dan paling bersungguh-sungguh membangun tanah Amungsa ini.
Pemerintah daerah tentu terus berupaya memperbaiki diri dalam melayani dan memajukan daerah. Namun kemajuan Mimika tidak bisa hanya ditanggung satu pihak saja. Diperlukan dukungan dan partisipasi seluruh elemen, terutama pemuda yang bersatu, berilmu, dan berkarakter.
Selaras dengan tema Hari Pemuda Internasional tahun ini, meskipun konteks kita berbeda, aspirasi kita tetap satu: Mimika yang maju, adil, dan sejahtera. Mari kita wujudkan lewat karya nyata, pikiran yang positif, dan kerja yang sungguh-sungguh.
Penulis: Jimmy