Dinkes Mimika Perkuat Kapasitas Tenaga Kesehatan Lewat Workshop Diagnosis Dan Pengobatan Hepatitis
Foto bersama usai pembukaan workshop diagnosis dan treatment hepatitis untuk petugas kesehatan Pustu dan klinik pemerintah di Ballroom Grandtembaga Lantai 1, Selasa (9/6/2026)(Salampapua.com/Evita)
SALAM PAPUA (TIMIKA) – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika menggelar workshop diagnosis dan pengobatan hepatitis bagi tenaga kesehatan Puskesmas Pembantu (Pustu) dan klinik pemerintah di Ballroom Grand Tembaga, Selasa (9/6/2026).
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas tenaga kesehatan dalam mendukung program Triple Eliminasi serta memperkuat upaya deteksi dini, diagnosis, dan penanganan hepatitis B dan C di tingkat fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Mimika, Linus Dumatubun, mengatakan workshop tersebut memberikan pemahaman mengenai kebijakan Triple Eliminasi, pedoman terbaru diagnosis dan pengobatan hepatitis, penggunaan obat antivirus Tenofovir, serta skrining Hepatitis B Surface Antigen (HBsAg) dan Hepatitis C Virus (HCV).
Menurutnya, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan sangat penting agar penularan hepatitis dapat dicegah sejak dini dan pasien memperoleh pengobatan yang tepat serta efektif.
“Hepatitis B dan C masih menjadi masalah kesehatan yang serius di Indonesia. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023, diperkirakan terdapat 6,7 juta orang terinfeksi hepatitis B dan 2,5 juta orang terinfeksi hepatitis C,” ujarnya.
Linus menjelaskan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama Kementerian Kesehatan RI menargetkan eliminasi hepatitis pada tahun 2030 melalui penurunan infeksi baru hingga 90 persen dan pengurangan angka kematian sebesar 65 persen.
Namun, ia mengakui masih terdapat sejumlah tantangan di tingkat daerah, terutama dalam pemerataan deteksi dini, kapasitas tenaga kesehatan dalam melakukan diagnosis, serta mekanisme rujukan pasien ke rumah sakit untuk mendapatkan terapi antivirus.
“Tantangan kita saat ini adalah memastikan seluruh fasilitas kesehatan mampu melakukan skrining dan diagnosis secara optimal, serta memperkuat sistem rujukan agar pasien dapat segera memperoleh pengobatan yang dibutuhkan,” katanya.
Ia menambahkan, tahun 2026 merupakan periode penting dalam pelaksanaan strategi eliminasi hepatitis. Karena itu, peran puskesmas dan fasilitas kesehatan tingkat pertama menjadi sangat krusial dalam upaya pengendalian penyakit tersebut.
“FKTP adalah garda terdepan yang memegang peran sangat penting dalam penanggulangan hepatitis B dan C. Melalui workshop ini kami berharap kapasitas tenaga kesehatan semakin meningkat sehingga target eliminasi hepatitis dapat tercapai,” pungkasnya.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi