5 Gejala DBD Pada Anak Yang Harus Diwaspadai Ilustrasi anak lagi demam (Salampapua.com/Alodokter)

5 Gejala DBD Pada Anak Yang Harus Diwaspadai

SALAM PAPUA (TIMIKA)- Gejala DBD pada anak perlu diwaspadai, terutama saat pergantian musim di mana nyamuk penyebab DBD makin cepat berkembang biak. Biasanya, gejala utama DBD adalah demam yang disertai gejala lainnya. Guna meredakannya, diperlukan pengobatan yang tepat.

DBD atau dikenal juga dengan demam berdarah dengue adalah infeksi virus dengue  yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti betina. Masa inkubasi atau periode waktu dari terpapar virus hingga munculnya gejala DBD adalah 4 hari hingga 2 minggu.

Salah satu gejala khas DBD pada anak adalah demam dengan pola pelana kuda, yang berbeda dengan demam biasa. Untuk meredakan demam ini, jangan sembarang memilih obat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan penggunaan paracetamol sesuai aturan pakai untuk meredakan demam DBD.

Gejala DBD pada anak yang sering terjadi

Pada fase awal, gejala DBD bisa mirip dengan flu biasa, sehingga sering diabaikan dan dianggap demam biasa. Padahal, bila dicermati, gejala-gejala DBD sebenarnya memiliki kekhasannya masing-masing. Beberapa gejala tersebut adalah sebagai berikut:

1. Demam tinggi

Demam tinggi hingga mencapai suhu 40°C merupakan gejala DBD pada anak yang paling sering terjadi.

Berbeda dengan demam biasa yang berlangsung lebih singkat dan menurun seiring waktu, demam DBD umumnya muncul mendadak dan punya pola pelana kuda. Pola ini berupa demam tinggi pada 1–3 hari pertama, penurunan suhu tubuh pada hari ke 4–6 yang menjadi fase kritis, dan diakhiri dengan suhu naik kembali selama 2–3 hari.

Selain itu, anak dengan DBD umumnya juga mengalami gejala penyerta, seperti mual, muntah, serta nyeri di otot, tulang, atau sendi. Sedangkan pada demam biasa, gejala pendampingnya tidak seberat atau sebanyak yang ditemukan pada DBD.

WHO merekomendasikan paracetamol sebagai penanganan demam pada DBD. Namun, hindari memberikan ibuprofen karena bisa meningkatkan risiko terjadinya perdarahan.

2. Bintik merah di seluruh tubuh

Bintik merah di seluruh tubuh merupakan gejala DBD pada anak yang paling mudah terdeteksi. Katanya bila sudah muncul bintik merah, jumlah keping darah anak biasanya sudah turun dan bisa masuk ke fase kritis.

Faktanya, fase kritis pada DBD tidak hanya ditandai dengan kemunculan bintik merah ini ya, Bun. Fase kritis biasanya terjadi di hari ke-4 hingga hari ke-6 saat suhu anak mulai turun.

Pada fase ini jumlah keping darah juga akan turun sehingga rentan terjadi perdarahan. Beberapa tandanya adalah munculnya bintik merah yang tidak hilang setelah ditekan, mimisan, atau memar.

3. Sakit kepala

Gejala DBD pada anak selanjutnya adalah sakit kepala berat yang diikuti dengan nyeri di belakang mata, nyeri sendi, otot, atau tulang. Meski tidak semua anak bisa menyampaikan keluhannya, biasanya sakit kepala ini menyebabkan anak lebih rewel, gelisah, dan sulit tidur.

4. Nyeri sendi, otot, dan tulang

Beberapa orang menyebut bahwa sensasi nyeri saat mengalami demam berdarah cukup berat hingga terasa seperti ada tulang yang patah. Hal ini jugalah yang membuat DBD dikenal juga dengan istilah “breakbone fever”.

Tidak hanya pada orang dewasa, nyeri di sendi, otot, dan tulang atau pegal-pegal juga bisa dirasakan oleh anak. Makanya, tidak heran kalau anak akan sangat rewel hingga sulit tidur saat merasakan gejala DBD ini.

5. Mimisan, gusi berdarah, dan memar

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, DBD pada anak bisa menyebabkan penurunan jumlah keping darah (trombositopenia). Semakin rendah jumlah keping darah, semakin mudah terjadi perdarahan. Biasanya, beberapa gejalanya adalah mimisan, gusi berdarah, dan memar.

Kalau sudah di tahap ini, pemantauan ketat akan dilakukan oleh dokter untuk mencegah Si Kecil mengalami komplikasi demam berdarah atau kondisi demam berdarah yang berat.

Selain mewaspadai gejala DBD pada anak, penting juga untuk melakukan pencegahan dengan gerakan 3M Plus. Mulailah dengan menguras tempat penampungan air secara rutin, menutup rapat wadah air, dan mendaur ulang barang bekas yang bisa menampung air.

Langkah tambahan yang bisa dilakukan antara lain menggunakan losion atau obat anti nyamuk, memasang kawat kasa pada ventilasi serta jendela, memelihara ikan pemakan jentik nyamuk, dan menanam tanaman pengusir nyamuk seperti lavender atau serai.

Jangan lupa juga untuk menaburkan bubuk larvasida pada tempat penampungan air yang sulit dikuras dan menghindari kebiasaan menggantung pakaian bekas pakai di dalam kamar. Dengan menerapkan upaya-upaya ini, risiko DBD pada anak dapat ditekan secara signifikan.

Anak yang mengalami gejala DBD sebaiknya dirawat di rumah sakit agar dokter bisa memantau kondisinya secara berkala. Hal ini karena tetap ada risiko kebocoran plasma dan penurunan jumlah keping darah yang bisa menyebabkan terjadinya perdarahan dan memberatnya DBD hingga syok (dengue syok syndrome). (Sumber: Alodokter)

Editor: Sianturi