SALAM PAPUA (TIMIKA) – Fenomena El Nino dan kekeringan mulai berdampak terhadap produksi pertanian di Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Salah satu komoditas yang paling terdampak adalah cabai, dengan harga di pasaran kini mencapai Rp125.000 hingga Rp150.000 per kilogram.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Mimika, Abdul Haris Sudharmono, mengatakan cabai menjadi salah satu komoditas yang membutuhkan banyak air sehingga produksinya menurun ketika terjadi kekeringan.
“Penurunan produksi dan terjadi inflasi. Karena dengan sendirinya barang akan berkurang di pasar, biaya produksi juga tinggi,” ujar Haris, Rabu (16/9/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga cabai di Mimika meningkat hingga Rp150.000 per kilogram. Kondisi serupa juga terpantau di Pasar Sentral Timika, di mana pasokan cabai lokal menurun akibat musim kemarau.
Untuk mengantisipasi kekeringan, sebagian petani telah berinisiatif membuat sumur bor di sekitar lahan pertanian. DTPHP Mimika juga melakukan pendampingan melalui penyuluh pertanian serta menyiapkan program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) untuk membantu memenuhi kebutuhan air di sentra-sentra pertanian.
Haris menjelaskan, dukungan pemerintah pusat untuk program tersebut pada prinsipnya berupa penyediaan barang, sedangkan pemerintah daerah perlu menyiapkan dana pendamping. Namun, anggaran sharing dari daerah saat ini masih terkendala keterbatasan fiskal dan adanya prioritas program lain.
“Selain itu, bantuan dari Kementerian Pertanian disalurkan bertahap melalui dinas, sedangkan untuk bantuan irigasi langsung ditangani oleh Kementerian Pekerjaan Umum,” jelasnya.
Ia mengatakan pembangunan sumur bor dan jaringan pipa diarahkan kepada kelompok tani yang telah terdaftar dan melalui proses verifikasi di tingkat provinsi untuk mencegah terjadinya tumpang tindih penerima bantuan.
Di sisi lain, Haris menyoroti distribusi komoditas melalui jalur laut yang turut memengaruhi ketersediaan bahan pangan di Mimika. Menurutnya, ketika kapal Pelni tiba, sebagian pedagang dari luar daerah membeli komoditas lokal dalam jumlah besar karena adanya perbedaan harga antarwilayah.
Kondisi tersebut, kata dia, membuat pasokan komoditas di Mimika semakin terbatas dan berpotensi mendorong kenaikan harga.
Sementara itu, untuk menghadapi dampak kekeringan dalam jangka pendek, DTPHP juga mendorong pengembangan padi gogo serta mengajak masyarakat memanfaatkan lahan di sekitar rumah untuk menanam kebutuhan pangan keluarga.
Penulis: Evita
Editor: Sianturi