Refleksi HUT Ke-30 Kabupaten Mimika, Dete Abugau: Mimika Harus Menempatkan OAP Sebagai Subjek Pembangunan Tokoh Pemuda Mimika Asal Suku Amungme, Dete Abugau, S.E (salampapua.com/Foto: Dokumen pribadi Dete Abugau)

Refleksi HUT Ke-30 Kabupaten Mimika, Dete Abugau: Mimika Harus Menempatkan OAP Sebagai Subjek Pembangunan

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Peringatan Hari Ulang Tahun ke-30 Kabupaten Mimika menjadi momentum penting untuk melakukan refleksi mendalam atas perjalanan pembangunan daerah.

Salah satunya datang dari tokoh pemuda Kabupaten Mimika asal Suku Amungme, Dete Abugau. Dia mengatakan bahwa tiga dekade Kabupaten Mimika bukan sekadar catatan waktu, melainkan perjalanan panjang yang harus diukur dengan kesejahteraan masyarakat, khususnya Orang Asli Papua (OAP).

Pria yang saat ini menjabat sebagai Ketua KPU Kabupaten Mimika ini menyoroti bahwa meski Kabupaten Mimika dikenal sebagai daerah dengan kekayaan alam melimpah, masih banyak masyarakat asli, terutama suku Amungme dan Kamoro, yang belum merasakan kesejahteraan nyata. Persoalan kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan dan kesehatan, serta pengangguran masih menjadi tantangan besar.

“Pembangunan bukan hanya soal gedung dan jalan yang berdiri, tetapi harus benar-benar dirasakan dalam kehidupan masyarakat. Kalau Orang Asli Papua masih tertinggal di tanah leluhurnya sendiri, maka ada pekerjaan besar yang belum selesai,” ujar Dete dalam keterangan tertulisnya kepada salampapua.com, Kamis (8/10/2026).

Ia juga menyoroti konflik antarkelompok dan kekerasan yang kerap terjadi di Mimika. Menurutnya, setiap nyawa yang hilang adalah luka mendalam bagi keluarga dan masyarakat.

“Tidak ada pembangunan yang bisa berdiri kokoh di atas rasa takut. Mimika butuh ruang dialog, rekonsiliasi, dan penegakan hukum yang adil,” tuturnya.

Dia menekankan bahwa kritik masyarakat terhadap kebijakan pemerintah adalah bagian dari demokrasi. Namun ia mengingatkan perlunya membedakan antara fakta dan asumsi.

“Pemerintah harus transparan, sementara masyarakat perlu membangun budaya kritik yang berbasis data. Dengan begitu, kritik tidak berubah menjadi fitnah, dan pemerintah tidak melihat kritik sebagai ancaman,” tambahnya.

Menutup refleksinya, Dete menegaskan bahwa memasuki usia 30 tahun, Mimika harus menempatkan Orang Asli Papua sebagai subjek pembangunan.

“Amungme dan Kamoro bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi identitas dan masa depan Mimika. Mereka harus menjadi aktor utama dalam pembangunan, bukan sekadar penonton,” pungkasnya.

Penulis: Evita

Editor: Jimmy