Sampah Jadi Uang Dan Sembako, Kios Kamoro Jaya Kumpulkan 1 Ton Per Bulan Lurah Kelurahan Kamoro Jaya, Musdhalifa, bersama pegawai Kios Sampah saat menunggu warga yang datang mengantarkan sampah, Senin (12/10/2026)(Salampapua.com/Acik)

Sampah Jadi Uang Dan Sembako, Kios Kamoro Jaya Kumpulkan 1 Ton Per Bulan

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kios Sampah Kelurahan Kamoro Jaya, Distrik Wania, Kabupaten Mimika, mengumpulkan rata-rata satu ton sampah setiap bulan sejak mulai beroperasi pada April 2026. Melalui program ini, masyarakat tidak hanya didorong menjaga kebersihan lingkungan, tetapi juga dapat memperoleh nilai ekonomi dari sampah yang dikumpulkan.

Lurah Kamoro Jaya, Musdhalifa, mengatakan program tersebut merupakan tindak lanjut dari peluncuran program Bank Sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Mimika. Pihak kelurahan kemudian menyiapkan lahan dan membangun Kios Sampah untuk melayani masyarakat di 57 Rukun Tetangga (RT).

“Pengumpulan sampah kami lakukan melalui aplikasi Kios Sampah. Sistemnya fleksibel, ada warga yang datang sendiri membawa sampah ke kios (drop-off), dan ada juga yang dijemput langsung oleh petugas kami menggunakan mobil pikap,” ujar Musdhalifa, Senin (12/10/2026).

Ia menjelaskan, sampah yang terkumpul selanjutnya disalurkan ke Bank Sampah di kawasan Pohon Jomblo yang menjadi mitra kerja sama dengan DLH Mimika.

Menurut Musdhalifa, capaian pengumpulan rata-rata satu ton sampah per bulan menunjukkan adanya antusiasme masyarakat terhadap program tersebut. Meski demikian, partisipasi warga belum merata di seluruh 57 RT sehingga sosialisasi akan terus dilakukan.

Adapun jenis sampah yang diterima di Kios Sampah Kamoro Jaya meliputi kertas, logam, plastik keras, dan plastik jenis polyethylene terephthalate (PET).

Sampah kertas yang diterima antara lain kardus, buku, dan koran. Untuk jenis logam, warga dapat membawa kaleng aluminium, kaleng besi, dan kaleng susu. Sementara itu, kategori plastik keras mencakup tutup botol, botol oli, baskom, dan jeriken. Kios tersebut juga menerima berbagai jenis plastik PET dengan warna bening, biru, hijau, dan putih.

Musdhalifa menjelaskan, nilai tukar sampah berbeda-beda bergantung pada jenis dan kondisi material. Pada sampah botol plastik, misalnya, harga dapat berbeda berdasarkan kondisi label dan tutup botol.

“Untuk jenis plastik seperti botol, masing-masing memiliki harga yang berbeda. Harga botol yang masih memiliki label dan tutup akan berbeda dengan yang sudah tanpa label dan tutup. Intinya, semua sampah memiliki nilai ekonomi,” jelasnya.

Hasil penukaran sampah dapat dimanfaatkan warga untuk memperoleh berbagai kebutuhan pokok, seperti beras merek Dua Hati kemasan 5 kilogram, teh, kecap, gula premium kemasan 1 kilogram, sabun cuci, serta sejumlah kebutuhan rumah tangga lainnya.

Selain ditukar dengan sembako, warga juga dapat memilih menerima uang melalui dompet digital (e-wallet) atau menggunakan nilai sampah untuk membayar tagihan listrik.

“Sampah sekarang sudah memiliki harga. Tinggal bagaimana respons dari masyarakat. Kami akan terus melakukan sosialisasi agar seluruh lapisan masyarakat memahami dan memanfaatkan program ini,” pungkas Musdhalifa.

Melalui Kios Sampah, Pemerintah Kelurahan Kamoro Jaya berharap semakin banyak warga berpartisipasi memilah dan mengumpulkan sampah yang memiliki nilai jual. Dengan demikian, pengelolaan sampah dapat menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan sekaligus membantu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.

Penulis: Acik

Editor: Sianturi