SALAM PAPUA (NABIRE) – Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Provinsi Papua Tengah menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) dan Konferensi Daerah (Konferda) I yang melibatkan pengurus Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD) GAMKI dari delapan kabupaten di Provinsi Papua Tengah.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Guest House, Jalan Merdeka, Karang Mulia, Nabire, Jumat (9/10/2026), tersebut mengusung tema “Pulihkanlah Bangsa Kami” dengan subtema “Mewujudkan Kepemimpinan Pemuda Kristen yang Transformatif dan Inovatif”.
Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) GAMKI, Alan Christian Singkali, S.E., M.Si., delapan perwakilan DPC, sejumlah anggota DPR Papua Tengah, serta undangan dan simpatisan.
Suasana Konfercab dan Konferda GAMKI Provinsi Papua Tengah bersama pengurus GAMKI dari delapan kabupaten di Aula Guest House, Jalan Merdeka, Karang Mulia, Nabire, Papua Tengah, Jumat (9/10/2026)(Salampapua.com/Elias) Ketua Pelaksana Tugas (Plt) GAMKI Provinsi Papua Tengah, Anis Labene, mengatakan Konfercab serentak dan Konferda I bukan sekadar agenda organisasi, melainkan momentum bagi pemuda Kristen untuk mengevaluasi peran dan kontribusinya dalam pembangunan bangsa, khususnya di Tanah Papua.
Menurut Anis, tema “Pulihkanlah Bangsa Kami” merupakan doa sekaligus panggilan tanggung jawab bagi generasi muda untuk merespons berbagai persoalan, seperti kemiskinan, ketimpangan, krisis moral, intoleransi, diskriminasi, konflik kepentingan, serta menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap institusi dan pemimpin.
“Ketika kita berbicara tentang pemulihan bangsa, kita sedang berbicara tentang bangsa yang masih menghadapi berbagai persoalan. Sebab itu, GAMKI tidak boleh diam,” ujar Anis.
Ia juga menyoroti persoalan intoleransi dan diskriminasi dalam kehidupan beragama. Menurutnya, hambatan terhadap pelaksanaan ibadah maupun persoalan yang menyangkut rumah ibadah harus menjadi perhatian bersama karena berkaitan dengan komitmen kebangsaan berdasarkan Pancasila dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Anis menegaskan, perjuangan GAMKI bukan untuk melawan kelompok lain, melainkan berkontribusi membangun Indonesia yang adil, damai, demokratis, toleran, dan menghargai martabat setiap manusia.
“Sebagai pemuda Kristen, kita dipanggil bukan untuk menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi pembawa damai. Bukan menjadi bagian dari masalah, tetapi menjadi bagian dari solusi. Bukan hanya menjadi penonton pembangunan, tetapi menjadi pelaku pembangunan,” tegasnya.
Ia menambahkan, pemuda Kristen di Tanah Papua memiliki tanggung jawab untuk mempersiapkan diri melalui pendidikan, peningkatan kapasitas, perluasan wawasan, dan pembentukan karakter agar mampu mengambil peran dalam pembangunan daerah.
Karena itu, Anis berharap kader GAMKI tidak hanya berbicara tentang perubahan, tetapi juga mampu mewujudkannya melalui tindakan nyata di lingkungan masing-masing.
“Subtema kita berbicara tentang kepemimpinan yang transformatif dan inovatif. Artinya, kader GAMKI tidak boleh hanya pandai berbicara tentang perubahan, tetapi harus menjadi perubahan itu sendiri,” katanya.
Sementara itu, Sekretaris Umum DPP GAMKI, Alan Christian Singkali, mengatakan GAMKI yang lahir pada 1962 memiliki tanggung jawab untuk terus mengambil bagian dalam pembangunan, termasuk mendukung kebangkitan generasi muda di Provinsi Papua Tengah.
Menurut Alan, kehadiran GAMKI di Papua Tengah harus mampu menjawab kebutuhan gereja, masyarakat, dan bangsa melalui tindakan nyata, termasuk menjembatani komunikasi antara pemuda, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan.
“GAMKI sebagai anak kandung gereja tidak boleh menutup mata terhadap apa yang terjadi. GAMKI harus mengambil langkah dan tindakan untuk menjembatani komunikasi, menjadi fasilitator, pionir, dan melakukan apa saja yang dibutuhkan oleh bangsa, gereja, serta masyarakat,” ujarnya.
Ia mengatakan, DPP GAMKI siap mendukung pengembangan organisasi di Papua Tengah sesuai kemampuan, termasuk mendorong kader-kader di daerah agar dapat berkontribusi dalam pembangunan.
Alan juga menyampaikan bahwa Kongres XIII GAMKI direncanakan berlangsung di Makassar sekitar satu bulan setelah kegiatan tersebut. Ia berharap kader GAMKI Papua Tengah dapat berpartisipasi dalam agenda nasional itu sebagai bagian dari penguatan organisasi dan konsolidasi kader.
Lebih lanjut, ia meminta dukungan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, gereja, serta aparat terkait agar GAMKI dapat menjalankan perannya dalam membina dan mempersiapkan generasi muda.
Menurutnya, pembinaan melalui GAMKI dapat menjadi ruang bagi pemuda untuk mengembangkan kemampuan, keterampilan nonteknis (soft skill), kepemimpinan, dan kapasitas organisasi, sekaligus menyalurkan potensi mereka bagi masyarakat.
“Ini masa depannya Papua Tengah. Pemuda harus dilatih, dididik, dan dibina di GAMKI supaya bisa menjadi ujung tombak,” katanya.
Alan juga menekankan pentingnya koordinasi antara pengurus DPC di delapan kabupaten dengan pemerintah provinsi maupun pemangku kepentingan lainnya. Koordinasi yang baik diperlukan agar perkembangan organisasi dapat dipantau dan program kerja berjalan secara terarah, termasuk di wilayah yang memiliki tantangan geografis.
Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota dapat membangun hubungan yang intensif dengan organisasi kepemudaan, khususnya GAMKI, sehingga potensi generasi muda dapat disalurkan untuk mendukung pembangunan daerah, masyarakat, dan gereja.
Penulis: Elias
Editor: Sianturi