Kelompok Newegalen Nyatakan Sikap Berhenti Perang, Siap Berdamai Dengan Kubu Dang Tokoh perang (woemum) kelompok Newegalen, Erinus Newegalen (kanan), tokoh masyarakat, Yan Tinal (tengah) dan Pendeta Anton Wamang (kiri) saat merilis video seruan perdamaian di Kwamki Narama, Jumat (4/9/2026) (salampapua.com/Acik)

Kelompok Newegalen Nyatakan Sikap Berhenti Perang, Siap Berdamai Dengan Kubu Dang

SALAM PAPUA (TIMIKA) – Kelompok Newegalen, salah satu pihak yang terlibat dalam konflik berkepanjangan dengan kelompok Dang di Kampung Amole, Distrik Kwamki Narama, Kabupaten Mimika, Papua Tengah, secara resmi menyatakan sikap untuk menghentikan perang dan siap berdamai, pada Jumat (4/9/2026). Pernyataan ini disampaikan sebagai langkah konkret untuk mengakhiri kekerasan yang telah berlangsung lebih dari satu tahun dan menelan belasan korban jiwa ini.

Tokoh perang (Woemum) kelompok Newegalen, Erinus Newegalen menjelaskan bahwa pihaknya telah menggelar pertemuan internal yang melibatkan seluruh tokoh perang, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Dalam pertemuan tersebut, disepakati beberapa poin penting sebagai dasar perdamaian.

Pertama, sebagai Woemum, Erinus menyatakan telah menerima jenazah dan mengikhlaskan kematian dua kerabat mereka, yakni dua pelajar SMK yang tewas dibunuh saat sedang magang di sebuah bengkel di wilayah SP3. Keluarga dekat korban juga dinyatakan telah menerima keadaan ini dengan lapang dada.

Kedua, kelompok Newegalen berharap agar kelompok Dang dapat bersikap serupa, yaitu mengikhlaskan apa yang telah terjadi tanpa adanya aksi balas dendam yang berpotensi kembali menelan korban jiwa.

"Perang ini sudah berjalan selama setahun lebih, sehingga kami mau supaya kita hentikan perang ini dan mau kembali hidup aman," pungkas Erinus.

Ketiga, kedua belah pihak diharapkan bersepakat mengakhiri konflik demi kelancaran pembangunan pemerintah dan kembalinya rasa aman bagi aktivitas masyarakat sehari-hari.

Erinus juga mendesak Pemerintah Provinsi Papua Tengah, Pemkab Mimika, dan Pemkab Puncak untuk segera memfasilitasi proses perdamaian tahap ketiga.

Menurutnya, meskipun tahap pertama dan kedua telah dilakukan, kehadiran penuh para pemangku kepentingan termasuk TNI-Polri sangat dibutuhkan untuk memastikan perdamaian yang berkelanjutan.

Sikap positif dari kelompok Newegalen ini mendapat dukungan penuh dari tokoh masyarakat dan agama.

Tokoh masyarakat, Yan Tinal menegaskan bahwa perang harus dihentikan demi masa depan anak-anak melalui pendidikan yang aman, serta agar pemerintah dapat fokus menjalankan roda pembangunan.

"Saya dari dulu selalu jalan bersama pihak keamanan untuk mendorong masyarakat agar hidup aman. Saya tidak pernah menghasut supaya masyarakat berperang, tapi saya selalu mengajak agar kita semua hidup saling berdamai. Jadi hentikan perang. Kelompok Newegalen dan kelompok Dang harus satu suara untuk berdamai," tegas Yan Tinal.

Sementara itu, perwakilan tokoh agama, Pendeta Anton Wamang, mengajak seluruh gereja di Timika untuk tidak menghindar dari persoalan, melainkan actively terlibat dalam upaya penciptaan perdamaian.

“Saya mau menyampaikan kepada tokoh-tokoh gereja yang ada di Timika, kita harus bersatu melihat persoalan dan masalah yang terjadi. Semua tokoh gereja tolong terlibat dalam pengamanan ini. Gereja tidak boleh menghindar dari jemaat,” ujarnya.

Menurut Pendeta Anton, gereja harus berada di tengah-tengah masyarakat dan mengambil komitmen moral untuk mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, sehingga kehidupan sosial dan pelayanan keagamaan dapat kembali berjalan normal.

Dengan pernyataan sikap ini, harapan besar tertuju pada terwujudnya perdamaian permanen dan dimulainya babak baru rekonsiliasi antar-kelompok di Distrik Kwamki Narama.

Penulis: Acik

Editor: Jimmy