SALAM PAPUA (TIMIKA) – Film Daniel and the Fiery Furnace hadir sebagai drama epik Alkitab yang mengangkat kisah tentang iman, keberanian, kesetiaan, dan keteguhan mempertahankan keyakinan di tengah tekanan kekuasaan. Film live-action ini membawa penonton ke masa pembuangan bangsa Yahudi di Babilonia dan mempertemukan kisah Nabi Daniel dengan salah satu peristiwa paling terkenal dalam Kitab Daniel, yakni keberanian Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menghadapi tungku api.
Film ini disutradarai sekaligus ditulis oleh kakak beradik Daniel Kooman dan Matthew Kooman. Keduanya juga bertindak sebagai produser bersama Mena Massoud dan Travis Mann. Film ini diproduksi oleh Unveil Studios, dengan Pinnacle Peak Pictures sebagai salah satu perusahaan yang terlibat dalam produksi dan penjualan internasional. Untuk distribusi bioskop Amerika Serikat, film ini ditangani EKKL Entertainment.
Film berdurasi sekitar 108 menit atau 1 jam 48 menit tersebut dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat pada 18 September 2026. Di Indonesia, data rilis mencatat tanggal 23 September 2026.
Salah satu daya tarik utama film ini adalah kehadiran Mena Massoud, aktor yang dikenal luas melalui film Aladdin, sebagai Daniel. Massoud memerankan sosok Daniel yang harus menjalani kehidupan di tengah lingkungan kerajaan Babilonia setelah bangsa Yahudi dibawa ke pembuangan.
Daniel bukan hanya digambarkan sebagai seorang tokoh yang memiliki kecerdasan, tetapi juga seseorang yang harus menjaga identitas dan keyakinannya ketika berada di bawah pemerintahan kerajaan yang memiliki nilai serta sistem kepercayaan berbeda.
Kehadiran Massoud memberikan daya tarik tersendiri bagi film tersebut. Karakter Daniel menjadi penghubung penting antara kehidupan orang-orang Yahudi di pembuangan dengan kekuasaan Babilonia.
Sementara itu, Elijah Alexander, yang dikenal melalui The Chosen, memerankan Raja Nebukadnezar. Karakter Nebukadnezar menjadi representasi kekuasaan yang menuntut kepatuhan mutlak. Konflik antara raja dan orang-orang yang menolak menyembah sesuai perintah kerajaan menjadi salah satu pusat ketegangan film.
Selain Massoud dan Alexander, jajaran pemeran penting lainnya meliputi Sunjay Midda sebagai Sadrakh, Adam Lahraoui sebagai Mesakh, dan Zaki Ali sebagai Abednego. Ada pula Sophia Decaro, Vladimir Angelove, Jazz Lintott, Luke McGibney, Chandan Roy Sanyal, dan Roberto Zenca dalam jajaran pemeran.
Cerita film berlatar pada masa ketika bangsa Yahudi berada dalam pembuangan di Babilonia. Daniel dan teman-temannya harus beradaptasi dengan kehidupan di sebuah kerajaan besar yang memiliki aturan, budaya, dan sistem kepercayaan yang berbeda.
Di tengah situasi tersebut, Daniel perlahan mendapatkan tempat di lingkungan kerajaan. Namun, keberadaan orang-orang yang tetap mempertahankan iman mereka menciptakan konflik dengan pihak yang menginginkan kepatuhan mutlak.
Ketegangan mencapai puncaknya ketika Raja Nebukadnezar mengeluarkan perintah yang menuntut penghormatan terhadap kekuasaan dan keyakinan kerajaan. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memilih untuk tidak tunduk.
Keputusan tersebut bukan pilihan sederhana. Mereka mengetahui bahwa penolakan terhadap perintah raja dapat berujung pada hukuman mati. Namun, mereka tetap mempertahankan keyakinan mereka. Akibatnya, ketiga tokoh tersebut dilemparkan ke dalam tungku api yang menyala-nyala.
Adegan tungku api menjadi jantung emosional film. Bukan semata-mata karena ancaman kematian, tetapi karena adegan tersebut menggambarkan pertarungan antara rasa takut manusia dan keyakinan yang mereka pegang.
Film kemudian membawa penonton pada pertanyaan sederhana tetapi mendalam: seberapa jauh seseorang bersedia mempertahankan keyakinannya ketika keselamatan dirinya menjadi taruhannya?
Salah satu kekuatan Daniel and the Fiery Furnace adalah penggunaan api sebagai simbol. Api tidak hanya menjadi ancaman fisik, tetapi juga menggambarkan ujian yang harus dilewati seseorang.
Dalam kehidupan, seseorang dapat menghadapi berbagai bentuk “api” berupa tekanan, ketakutan, kehilangan, ketidakadilan, maupun ancaman dari lingkungan sekitar. Film menggunakan kisah Sadrakh, Mesakh, dan Abednego untuk menunjukkan bahwa keberanian muncul ketika seseorang tetap berpegang pada prinsip meskipun berada dalam keadaan yang sangat sulit.
Pesan ini membuat film tidak hanya relevan bagi penonton yang memahami kisah Alkitab, tetapi juga bagi penonton umum. Konflik antara kekuasaan dan prinsip pribadi merupakan persoalan yang dapat ditemukan dalam berbagai kehidupan.
Sebagai film drama Alkitab modern, Daniel and the Fiery Furnace mencoba menghadirkan Babilonia melalui pendekatan sinema live-action. Latar kerajaan, kostum, suasana masyarakat kuno, dan lingkungan gurun menjadi bagian penting dalam membangun dunia cerita.
Sinematografi film ditangani Supratim Bhol, sementara musik digubah oleh Tyler Michael Smith. Kehadiran musik menjadi elemen penting untuk membangun suasana emosional, terutama ketika cerita memasuki bagian-bagian yang menegangkan.
Film ini juga memiliki rating PG-13 karena mengandung kekerasan kuat dan gambar berdarah. Dengan demikian, film tidak sepenuhnya ditujukan sebagai tontonan anak-anak, meskipun membawa tema keagamaan dan kisah Alkitab.
Kekuatan terbesar Daniel and the Fiery Furnace terletak pada tema dan pesan moralnya. Film tidak hanya mengandalkan kisah tentang keajaiban, tetapi terlebih dahulu membangun konflik mengenai pilihan. Para tokoh harus menentukan apakah mereka akan menyelamatkan diri dengan mengorbankan keyakinan atau tetap mempertahankan iman dengan risiko kehilangan nyawa.
Kehadiran Mena Massoud dan Elijah Alexander juga memberikan daya tarik bagi penonton yang mungkin tidak terbiasa dengan film-film bertema Alkitab.
Kekuatan lainnya adalah keberanian produksi untuk menghadirkan kisah Alkitab dalam bentuk drama epik modern. The Kooman Brothers tidak hanya menampilkan kisah sebagai narasi religius, tetapi berusaha memberikan dimensi manusiawi terhadap tokoh-tokohnya—tentang ketakutan, tekanan, ambisi, dan keberanian.
Di sisi lain, penonton yang mengharapkan film aksi dengan tempo cepat mungkin menemukan beberapa bagian terasa lebih lambat. Fokus utama film berada pada perjalanan karakter, konflik iman, dan drama kerajaan sehingga tidak setiap bagian dipenuhi adegan aksi.
Film juga sangat kuat membawa pesan religius. Bagi penonton yang tidak terbiasa dengan genre faith-based film, pendekatan tersebut mungkin terasa cukup langsung.
Namun, bagi penonton yang memang menyukai film sejarah, kisah Alkitab, dan drama yang menekankan nilai moral, pendekatan tersebut justru menjadi salah satu daya tarik utama.
Pada akhirnya, Daniel and the Fiery Furnace bukan hanya berbicara tentang api. Film ini berbicara tentang keberanian untuk berdiri ketika semua orang meminta seseorang untuk berlutut.
Sadrakh, Mesakh, dan Abednego menunjukkan bahwa keberanian tidak selalu berarti melawan dengan kekuatan. Terkadang keberanian justru berarti mengatakan tidak, mempertahankan prinsip, dan menerima konsekuensi dari keputusan tersebut.
Sementara kisah Daniel memberikan gambaran tentang seseorang yang hidup di tengah sistem kekuasaan besar tetapi tetap berusaha mempertahankan identitas dan keyakinannya.
Pesan tersebut menjadi relevan dengan kehidupan modern. Setiap orang dapat berada dalam situasi ketika prinsip diuji oleh kepentingan, tekanan lingkungan, atau rasa takut. Film ini mengingatkan bahwa karakter seseorang sering kali terlihat bukan ketika keadaan mudah, tetapi ketika pilihan yang benar memiliki harga yang mahal.
Secara keseluruhan, Daniel and the Fiery Furnace merupakan film drama Alkitab yang menawarkan perpaduan antara kisah sejarah, drama kerajaan, konflik iman, dan pesan spiritual.
Dengan Mena Massoud sebagai Daniel, Elijah Alexander sebagai Raja Nebukadnezar, serta Sunjay Midda, Adam Lahraoui, dan Zaki Ali sebagai Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, film ini memiliki jajaran pemeran yang mendukung cerita utamanya. Film disutradarai dan ditulis Daniel Kooman dan Matthew Kooman, dengan Unveil Studios dan Pinnacle Peak Pictures sebagai bagian penting dari produksinya.
Bagi penonton yang menyukai film bertema Alkitab, Daniel and the Fiery Furnace layak masuk daftar tontonan. Kekuatan film ini bukan hanya pada kisah tungku api yang spektakuler, tetapi pada pertanyaan yang ditinggalkannya setelah film selesai: ketika iman, prinsip, dan keselamatan diri berada dalam satu pilihan, apakah kita berani tetap berdiri?
Dengan pesan tentang iman, keteguhan, dan keberanian menghadapi tekanan, Daniel and the Fiery Furnace berpotensi menjadi salah satu film faith-based yang menarik perhatian penonton pada 2026. (Sumber: Rotten Tomatoes/AI)
Editor: Sianturi